Wednesday, October 14, 2020

Vamos Chile

Seberapa berani kita untuk mewujudkan mimpi? Mari kita kecilkan skala, senekat apa kita merealisasikan keinginan? Selaras dengan keberanian, batas ketakutan akan terus berubah. Ketika mulai berjalan, kita takut untuk melangkah tanpa berpegangan. Ketika belajar sepeda, kita menangis saat terjatuh karena roda tambahan dilepas. Artinya, limit keberanian kita akan bertambah saat berhasil mengatasi rasa takut dan akhirnya menguasai suatu keahlian. 

"If your dreams not scare you, they are not big enough"
(Ellen Johnson Sirleaf)

Bagaimana dengan traveling? Saya pernah takut untuk traveling sendirian ke Bali. Benar, hanya ke Bali. Saat itu, saya memang belum pernah liburan sendiri dan khawatir tidak bisa menikmati perjalanan seorang diri. Berawal dari tahun 2010, saya memberanikan diri solo traveling ke Derawan. Sebenarnya, gak full sendirian juga karena gabung open trip. 

Lanjut di tahun 2011, saya sikat tiket promo ke Penang. Lagi-lagi solo traveling karena susah cari teman yang jadwalnya cocok. Dengan persiapan ribet, parno takut ilang pasport, duit kurang, atau bahkan jatuh sakit, trip ini justru membuat saya mulai menikmati kenyamanan ngebolang. 

Selanjutnya, saya semakin sering melakukan solotrip, mulai Thailand, Filipina, dan Hongkong. Biar gak bosen dan merasakan pengalaman berbeda, saya juga mulai bergabung bersama komunitas traveler di Indobackpacker. Bersama rekan komunitas, saya pernah traveling bertiga ke Myanmar dan berdua saja ke Kamboja. 

Pertama foto di Eropa 

Rasa takut akan kalah sama efek adiktif dan pastinya pengalaman. Kepuasaan, pelampiasan hasrat, pembuktian diri, maupun perasaan bangga menjadi pemanisnya. Berbagai rasa ini yang menjadi pendorong saya untuk melakukan perjalanan 12 hari keliling 9 kota di Eropa sendirian. Rasanya tidak percaya, akhirnya saya bisa menjelajah benua biru sendirian. Persiapan dan pengalamannya? Jangan tanya, panjang dan seru.. Cerita lengkap ada di tulisan sebelumnya ya. Hahaha...


Nothing to Fear 

Anehnya, perasaan takut solotrip ini kembali muncul setelah 5 tahun berlalu. Kembali ke awal, saya menjadi banyak pertimbangan, kepengen praktis dan malas untuk persiapan matang. Kenapa ya? Kalo boleh dicek, saya praktis tidak pernah solo traveling pada rentang waktu 2014 - 2018. Bahkan, pasport kebanyakan nganggur selama kurun 2016 sampai petengahan 2018. Sempat mau ke Eropa Timur di awal tahun 2017, tapi batal karena saya harus terbaring di RS.  

Apabila saya flashback, banyak hal telah menyita berbagai momentum penting selama periode tersebut. Apakah saya merasa menyesal? Hmm..mungkin tidak. Akan tetapi, keadaan memang harus diperbaiki. Lebih tepatnya, diseimbangkan. Tapi bagaimana? Perlu suatu momen untuk mendobrak kebuntuan ini, sehingga menemukan perasaan excited kembali dalam solo traveling. 

Pan Americana Highway
Akhirnya datang juga, momen untuk berhenti sejenak dan memompa semangat. Apalagi kalau bukan tambahan dosis. Benar, saya kembali nekat solotrip. Kemana? Agar lebih menarik, saya memilih Amerika Latin, tepatnya Chile. Kenapa Chile? Simple, saya punya teman-teman di sana, penerbangan hanya transit satu kali serta tersedianya tiket yang "agak" murah. Sebenarnya, saya pengen ke negara lainnya, seperti Brazil, Peru dan Argentina. Namun, kondisi belum memungkinkan. Satu lagi alasan penting, Chile bebas visa untuk WNI. Yeayyyy...

Setelah issued tiket 3 bulan sebelumnya, saya berangkat ke Santiago visa Singapore dan transit di Sidney. Berangkat 3 hari setelah lebaran, saya sempat ragu untuk solotrip ini. Alasannya? Saya demam di hari kedua lebaran. Badan panas dingin dan lemas. Saat di Singapore, saya pun masih demam. Agar tubuh lebih enakan, saya keliling di Garden by The Bay sembari menunggu penerbangan jam 9 malam. Alhamdulillah, koper bisa dititipkan di bandara dengan biaya SGD 10 per item (tergantung ukuran).

Raise Your Coffee

Saya tidak akan bercerita banyak mengenai Santiago maupun Valparaisso, karena tidak banyak yang sempat saya eksplor. Kegiatan yang paling menyenangkan selama traveling adalah nongkrong dan bercerita dengan teman-teman Chilean saya, mengenal bagaimana kehidupan di Santiago berjalan, dan merasakan Piscola kebanggaan mereka. Lucunya, mereka sampai berselisih mengenai asal usul Pisco ini, milik Chile atau Peru. 

Selain mencoba berbagai makanan lokal, saya merasakan sensasi damai saat memandang Samudra Atlantik dan merasakan hembusan angin dingin Valparaisso, salah satu kota pelabuhan terbesar pada masanya. Perdagangan dan pelabuhan di kota ini sudah tidak sebesar dahulu karena adanya Terusan Panama. Sejak 1914, jalur pelayaran dari Pasifik ke Atlantik atau sebaliknya tidak perlu mengitari benua dan melewati Valparaisso. 

Jalan santai mengelilingi kota, mampir sejenak di berbagai kafe lokal terasa menyenangkan. Bahkan menyeruput iced americano Starbucks pun terasa nikmat setelah kecapekan berkeliling Plaza de Armas. Berbagai sajian kafe selama transit di Auckland dan Sidney pun terasa menyenangkan. Satu lagi pengalaman seru, penerbangan melintasi Samudra Pasifik dengan berbagasi jenis aircraft, mulai A340, B747, B777, dan A380. Jangan tanya turbulensinya, deg deg ser. 

--------------------------------

Ngopi di Santiago
Saya  hanya ingin sharing. Kita pasti merasakan kepuasaan atau "hanya lega" bisa melakukan suatu keinginan atau mimpi. Apakah ini yang namanya passion? Entahlah, saya juga tidak paham dan tidak mau pusing memikirkannya. Satu yang jelas, rasa senang dan menyesal seringkali bercampur menjadi  satu. Kenapa ada sedikit penyesalah? Realistis saja, kehidupan harus seimbang. Sebagian waktu kita memang perlu digunakan untuk mengejar berbagai pencapaian. Sayangnya, terkadang kita melupakan apa yang sebenarnya kita inginkan dan membuat kita bahagia.

Ingat, seperti secangkir kopi. Kita tidak akan merasakan nikmatnya hidup kalo tidak menikmati sedikit pahitnya. Hahaha.. Ngopi kemana lagi kita??

--------------------------------------
Bintaro Exhange Mall, Djournal Coffee
Read More »»»

Thursday, June 27, 2019

Istanbul: Sebuah Bucket List

Kalo mengaku backpacker atau menyebut diri seorang traveler, kita pasti sering mendapat pertanyaan "Jalan kemana lagi abis ini?". Paling tidak, kita pernah ditanya "Liburan kemana tahun ini?". Saat ini, traveling atau liburan memang sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

Mulai dari melepas kejenuhan, membangun quality time bersama keluarga, memanfaatkan cuti, sampai dengan mempelajari arsitektur atau mengenal kebudayaan di dunia. Kalopun cuma pengen belanja, wisata kuliner atau meramaikan konten Instagram juga wajar saja. Jalan - jalah mah bebas.


Sejarah Peradaban

Pada awal suka traveling, saya selalu memasukkan Turki sebagai salah satu tujuan impian. Meski beberapa kali harus dijadwalkan ulang dengan berbagai alasan, negeri ini selalu menjadi bucket list setiap tahun. Sebenarnya, Istanbul-lah yang menjadi tujuan utama saya. 

More than happy

Ketika belajar sejarah bangsa - bangsa di dunia, Istanbul memiliki tempat tersendiri dalam catatan peradaban. Mulai jaman Kekaisaran Romawi, Perkembangan Islam, Politik Dunia, sampai cerita setengah fiksi seperti Dracula.

Kota yang dulu bernama Konstantinopel ini juga nampak dalam beberapa adegan film, sebut saja Inferno, Taken 2, dan Skyfall.  Bahkan, adegan kehancuran dunia seringkali menampilkan salah satu sudut Instanbul. Mulai dari Armageddon sampai salah satu scene film 2012. Film nasional juga tidak ketinggalan mengangkat seting di kota ini, seperti dalam 99 Cahaya di Langit Eropa. Istanbul memang memiliki pesona tersendiri.

Ketika kesempatan datang dan tawaran tiket terjangkau, saya langsung ambil tanpa berpikir panjang.  Selain tidak pusing memikirkan itenerary karena sudah tahu apa yang ingin saya kunjungi, kurs Turkish Lira juga sedang turun karena krisis ekonomi.

Ditambah, WNI cukup mengurus online visa untuk mengunjungi negeri yang terletak di dua benua ini. Proses memperoleh e-visa pun cukup mudah, selesai dalam 10 menit dengan membayar online sebesar USD 25.

Ada Apa di Istanbul?

Pertama mendarat di Bandara Ataturk, Istanbul, saya sudah menemukan bukti bahwa negeri ini memang salah satu destinasi wisata favorit. Banyak sekali penerbangan asing menuju kota ini. Bahkan, suasana masih ramai sekali ketika saya mendarat lewat tengah malam. Tak salah maskapai plat merah, Turkish Airline berani mengklaim "Flying to The Most Country". 

Berburu Medusa
Sembari menunggu airport train yang mulai beroperasi jam 6 pagi, saya menunggu di Starbucks yang ada di bagian kedatangan. Daripada ngantuk dan kedinginan, saya pesan Turkish Coffee yang surprisingly enak.

Sayang, password wifi di bandara hanya diberikan bagi mereka yang memiliki boarding pass keberangkatan. Segera, saya nyalakan portable modem yang saya sewa dari Surabaya. Saya memilih sewa modem karena kecepatan internet di Turki terkenal lemot parah. 

Mengenai Istanbul, rasanya tidak perlu saya jelaskan pesonanya. Setelah menitipkan backpack di Hostel, saya segera berkeliling ke beberapa destinasi. Hagia Sofia, Blue Mosque, Istana Topkapi saya jelajahi dengan membeli one day pass untuk beberapa destinasi. Sedikit lebih mahal, tapi saya memilih hemat waktu antri dengan membeli tourist pass ini. 

Salah satu destinasi utama di hari pertama adalah Yerebatan Sarnici. Lokasi yang menjadi akhir petualangan Prof. Langdon di film Inferno (di film disebut Yerebatan Sarayii). Yerebatan Sarnici atau Basilica Cistern adalah waduk bawah tanah terbesar yang dibangun pada masa pemerintahan Kaisar Justisianus. Lumayan pegal untuk menemukan kepala Medusa di dalam waduk ini. 

Burger Kukus & Scam

Di hari kedua, saya mengawali perjalanan dengan menikmati Turkish Chai di bagian sudut Taksim Square. Cuaca dingin membuat saya semakin malas dan hanya ingin bersantai menikmati teh hangat didampingi beberapa potong Baklava.

Kurang nikmata apa lagi?
Ketika mulai hangat, saya melihat kedai makanan di seberang sudah buka. Benar, saya menunggu untuk mencoba Islak Hamburger alias burger kukus yang muncul di tayangan Street Food Around The World. Dan ternyata, satu potong belum kenyang..

Jadwal saya di hari kedua ini cukup padat, mulai dari berbelanja di Grand Bazaar, mengunjungi Galata Tower dan menyeberangi Selat Bosporus.

Terus terang, saya selalu mengalami sedikit insiden dalam setiap perjalanan. Setelah gagal mencoba hamam karena kesasar, saya juga kena tipu oleh rayuan pedagang turkish delight di Grand Bazaar.

Kurang hati - hati tidak menanyakan harga barang, saya terpaksa membayar hampir 200 USD untuk berbagai oleh-oleh yang saya beli. Soal duit memang bisa dilupakan, tapi berat ransel saya semakin bertambah. Terpaksa sebagian saya pindahkan ke tas jinjing. 

Tidak hanya itu, saya juga harus mengikhlaskan tongsis saya rusak saat jatuh di sekitar Galata Tower. Sudahlah, saya batalkan ikut mengantri ke puncak tower. Selain terlalu panjang, perkiraaan butuh waktu satu jam. Mending saya nongkrong menikmati cemilan sore untuk mengembalikan mood.

------------------------------------------------------------
Ditulis sejak 27 Juni 2019, selesai 25 Maret 2020
Read More »»»

Wednesday, November 21, 2018

Vietnam: Motor Raja Jalanan

Meski sudah berlalu 3 tahun lalu, rasanya tidak lengkap tanpa mencoba mengumpulkan semua ingatan dalam blog ini. Menuliskan kembali sebuah catatan perjalanan tidak hanya susah, tetapi seperti kehilangan feel. Tambah lagi, semua foto perjalanan telah musnah karena harddisk rusak satu tahun yang lalu. Terima kasih kepada facebook dan instagram karena beberapa foto tersimpan dalam postingan saya dan beberapa teman perjalanan. Setidaknya, masih ada bahan untuk memulai catatan dalam cerita perjalanan kali ini.

Pada awal memulai perjalanan backpacker ke luar negeri, bucket list urutan pertama saya adalah mengelilingi Asia Tenggara sebelum usia 30 tahun. Dengan pertimbangan jarak yang dekat dan berbiaya hemat, banyak buku perjalanan dan artikel yang telah saya kumpulkan sebagai persiapan.

Akan tetapi, sampai hari ini (di usia menginjak pertengahan tiga puluhan), saya belum mampu menyelesaikan perjalanan mengelilingi kawasan ini. Tepatnya, baru 8 dari 10 negara anggota ASEAN yang telah saya kunjungi. Vietnam adalah negara terakhir yang saya kunjungi pada Oktober 2015 lalu,  tunggu aku Laos dan Brunei. Semangat!!

Apa Serunya Ho Chi Minh City?


Berbicara mengenai Vietnam, dua hal yang terlintas pertama dalam benak adalah Ho Chi Minh dan Vietnamese Pho. Tak salah memang, selain menggantikan nama kota Saigon (ibukota Vietnam Selatan), Ho Chi Minh merupakan tokoh revolusi negara ini. Sejarah mencatat, beliau adalah tokoh yang mempelopori gerakan kemerdekaan di negeri ini. Ho Chi Minh merupakan pahlawan terbesar bagi bangsa Vietnam karena jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan dan penyatuan bagian utara dan selatan. Ketika pasukan Vietnam Utara berhasil menaklukkan Saigon pada tahun 1975 dan menandai penyatuan Vietnam, maka kota tersebut diganti menjadi kota Ho Chi Minh.

Untuk Pho sendiri, sebenarnya saya tidak terlalu penasaran. Selain telah banyak rumah makan Vietnam di Indonesia, sulit sekali menemukan hidangan ini dalam versi halal di negaranya. Mungkin  saya yang malas mencari di itenerary, atau karena saya lebih penasaran dengan Vietnamese Coffee. Penyajian manualnya sangat khas, bahkan kita mengenal Vietnam Drip sebagai metode brewing tersendiri dengan tambahan susu kental manisnya.

Kalo saya ditanya apa yang seru di kota ini, jawabannya bukan Chu Chi Tunnel atau wisata menyusuri sungai Mekong. Namun, pengalaman paling menegangkan justru ketika kita menyeberang jalan di sekitar Ben Thanh Market. Wuih... sepeda motor disini bener - bener seperti di Gang Kelinci. Tidak saja ramai, tapi cara menyetirnya sangat khas dengan kecepatan pelan dan silang menyilang. Ditambah, ruas jalan yang sangat lebar di sekitar area pasar. Prinsipnya, kalo mau nyeberang fokus saja dengan langkah kita dan ratusan motor ini yang akan menyesuaikan. Bagi yang belum terbiasa, benar - benar seperti uji nyali..

Awas Spam Taxi!!

Bagi traveler, spam paling terkenal di negeri ini adalah sopir taxi nakal yang seringkali mematok harga ngawur. Sesuai rekomendasi dalam banyak catatan perjalanan, kita bisa memilih salah satu operator taxi yang terpercaya (Ingat, tahun 2015 belum ada aplikasi online untuk pesan kendaraan).

Pengalaman saya, naik taxi dari bandara Tan Son Nhat juga gak kalah seru. Dalam kondisi hujan deras, jalanan bagaikan kolam penuh ikan besar dan kecil dengan air yang nyiprat kemana - mana. Ditambah suara klakson besahut-sahutan seolah tidak mau kalah meminta jalan. Dalam cuaca inipun, terlihat beberapa pengendara yang beradu mulut karena kendaraannya salaing menyerempet. Termasuk taxi yang saya tumpangi ini, kaca spionnya terserempet pengendara moto. Benar - benar ruwet...

Mempertimbangkan angkutan umum dan jalanan yang kurang bersahabat, saya memilih untuk mengikuti paket perjalanan. Selain itu, waktu liburan yang terbatas hanya tiga hari, saya pikir lebih efektif jika bergabung dengan rombongan wisata. Pusing kepala saya jika membayangkan harus menyeberangi jalan seorang diri.

Tak perlu khawatir, di hostel dan penginapan banyak disedikan brosur paket wisata dengan berbagai pilihan. Harga akan ditentukan oleh durasi perjalanan, fasilitas, dan tentunya destinasi yang dikunjungi.. Bijaklah memilih paket sesuai dengan anggaran dan waktu. Sebaiknya browsing dulu untuk obyek wisata yang ingin kita kunjungi, karena banyak sekali pilihan paketnya. Jangan sungkan meminta penjelasan dengan pihak hostel, termasuk meminta diskon jika memesan untuk banyak orang.

------

Kepingan Catatan
Oktober 2015
Read More »»»

Wednesday, January 31, 2018

MBSI: Dari Tim Menjadi Keluarga

Lewat satu dekade lalu, buku "The Secret" menjadi fenomena. Rondha Byrne sebagai penulis buku menganggap bahwa alam semesta diatur oleh hukum tarik-menarik. Setiap peristiwa merupakan "tarikan" dari pikiran, tindakan, dan perasaan kita. Oleh karena itu, berpikir dan merasa positif diklaim dapat menciptakan kehidupan yang lebih baik. Memang agak susah diterima logika, tapi semua akan terasa nyata jika kita telah mengalaminya.

Ketika ditawari sebagai ketua umum Marching Band Semen Indonesia, muncul pertanyaan besar dalam diri saya "Really? Are you sure?". Saya langsung bilang menolak, dengan pertimbangan saya buta tentang dunia marching. Pada kesempatan kedua, permintaan hadir disertai dengan penjelasan mengenai kondisi organisasi saat ini yang memang memerlukan suatu perbaikan. Salah satu kondisi membuat saya "luluh" menerima tugas baru ini.

Juara Umum GPMB 2015
Sebagai langkah awal, saya membentuk tim yang akan bekerja bersama untuk melakukan aktivitas organisasi. Pemilihan anggota diutamakan dari kedekatan emosional sehingga sebagian besar tim saya berisi teman - teman yang sering berinteraksi. Dimana sembilan puluh persen tim juga tanpa pengalaman di dunia marching dan pendatang baru dalam susunan kepengurusan. Lengkap sudah, pengetahuan dan kondisi terkini organisasi masih gelap dalam bayangan kami. Prinsip kami: Just let it flow....

Langkah pertama yang saya ambil adalah mencoba mengenal seluruh bagian organisasi. Pengenalan ke tim pelatih, metode kerja, pengelolaan kegiatan, dan roda operasional yang ada selama ini. Ha3x... Jangankan tahu bedanya trumpet dan tuba, membedakan low brass dan high brass saja saya tak tahu. Wuih, banyak juga ternyata kelengkapan dalam marching band. Dan alhamdulillah, semua dalam tubuh MBSI sudah lengkap namun perlu pembenahan ekstra.. :(

Bersama MBSI

Setelah 4 bulan masa awal, akhirnya tiba saatnya untuk ikut dalam penampilan perdana. Parade Senja 2016 di Gedung Negara Grahadi menjadi momen pertama saya mendampingi tim. Momen dimana saya menyadari panjangnya kerja keras dalam sebuah penampilan marching band. Jadwal latihan yang padat, fisik yang terkuras, koordinasi menyeluruh, dan ribetnya persiapan penampilan hanya untuk 12 menit. Salutttt...

Sepanjang hampir 3 tahun ini, banyak momen bahagia dan membanggakan yang tertulis. Salah satu yang tak akan terlupakan, ketika kami berhasil menjadi Juara Umum GPMB 2015 di Istora Senayan. Momen ini benar - benar menjadi sebuah ujian bagi tekad, semangat, dedikasi, dan kekompakkan kami. Berbagai masalah seperti tidak pernah berhenti muncul. Perseteruan dengan pelatih, kesalahpahaman sesama pengurus, keraguan Direksi dengan prestasi tim, mepetnya waktu persiapan, protes orang tua, kecelakaan pemain dan berbagai kendala teknis yang silih berganti.

Sejujurnya, beberapa kali saya hampir menyerah. Minimnya dukungan ditengah beban pekerjaan di unit baru seakan membisiki saya untuk berhenti atau menurunkan target. Yup, saya memang memasang target tinggi untuk tim, JUARA UMUM. Alhamdulillah, dukungan dari teman - teman pengurus, keyakinan pelatih dan semangat para pemain memompa ulang tekad saya.

Merayakan Ulang Tahun Bersama MBSI
Rasa syukur dan haru tumpah ketika tim kami berhasil membawa pulang kembali Piala Bergilir Presiden RI. Sebuah perjuangan panjang, setelah 8 tahun piala ini tidak pernah kembali ke Gresik. Lebih membanggakan, kali ini kami membawa nama Marching Band Semen Indonesia. Dimana pertama kali Juara Umum GPMB 2008, tim kami masih bernama Marching Band Semen Gresik.

Tiba Saatnya Untuk Berpisah

Seiring perubahan kebijakan perusahaan, MBSI sedang mengalami masa sulit. Satu tahun terkahir ini, kami telah berjuang melewati berbagai perubahan. Satu yang saya sesalkan, komitmen para pembina terhadap MBSI yang tidak penuh. Sebenarnya, saya masih berat untuk berpisah. Bukan hanya kerena masih banyak program kerja yang ingin kami jalankan. Lebih dari itu, kami merasa sudah menjadi    keluarga besar yang kompak.

Selama menjadi pengurus, banyak pengalaman yang menjadikan saya lebih baik, sebagai seorang manusia dan pemimpin. Kesempatan yang mengajarkan saya untuk selalu melakukan yang terbaik dengan sepenuh hati. Satu pelajaran penting, jika kita mempunyai niat baik, halangan apapun pasti akan dapat kita lalui karena akan selalu ada bantuan orang - orang terbaik di sepanjang jalan yang sulit. Seperti hukum tarik menarik, jika kita berpikir positif, kita akan menarik kembali hal - hal positif dan keadaan baik kepada diri sendiri.

Kini, saatnya kami melanjutkan pengalaman baru. Tiga tahun ini adalah waktu yang cukup bagi saya untuk memulai sesuatu yang baru. Saya selalu berharap MBSI mampu melewati kondisi saat ini. Saya yakin, nahkoda yang baru pasti akan mampu membawa MBSI semakin jaya. Dan, semoga perusahaan memiliki komitmen kuat untuk selalu mencari solusi dari setiap permasalahan yang ada. Terima kasih atas dukungan semua, dan mohon maaf jika ada kesalahan.

--------------------- April 2015 - Maret 2018 --------------------------


*Saya telah menyampaikan kepada Pengurus untuk mengundurkan diri pada Akhir Maret 2018.  Surat resmi pengunduran diri sedang saya siapkan..
Read More »»»

Sunday, December 18, 2016

Mengejar "Halal Food" di Skandinavia

Mendengar kata Skandinavia, dalam benak saya yang terbayang adalah Bangsa Viking & kawasan yang dingin. Tidak salah memang, tapi lebih tepatnya sebutan ini mengacu kepada kawasan di Eropa bagian Utara. Saat ini, Skandinavia terdiri dari lima negara Denmark, Norwegia, Swedia, Finlandia, dan Islandia. Sedangkan Viking sendiri adalah salah satu bangsa yang mendiami kawasan ini dan terkenal sebagai bangsa pelaut, pedagang, dan perompak dengan bentuk kapalnya yang khas.

-------------------------------------------------------------
Awal 2015, saya mendapat tugas kantor ke Copenhagen dan menyempatkan diri untuk keliling di beberapa kota di Denmark & Swedia. Nah, ini beberapa catatan menarik saya:

Kerajaan yang Mahal

Menikmati Sunrise Kobenhavn
Meskipun telah tergabung dalam Uni Eropa, Euro tidak digunakan sebagai mata uang tunggal. Dalam bertransaksi, mereka lebih banyak menggunakan Danish Krone (DKK). Semua harga yang tertera di minimarket, restaurant, dan Stasiun MRT adalah dalam DKK.

Meskipun begitu, kita tetap dapat menggunakan Euro sebagai alat pembayaran di beberapa local restaurant dan stasiun MRT. Nilai tukar yang mereka gunakan adalah  1 EUR = 7 DKK. Namun, sebagian besar minimarket dan kedai franchise hanya menerima DKK. Tips saya, tukarkan EUR sesuai kebutuhan. Pilihlah money changer yang di dekat area backpacker atau pasar, jangan menukarkan di stasiun dan bandara. Atau, jika anda memborong di satu tenant, gunakan saja credit card. Mudah..

Mengenai harga, negara kerajaan ini adalah salah yang termahal di Eropa. Sebagai gambaran, satu paket ayam goreng KFC yang berisi 2 potong ayam dan salad dihargai 89 DKK (Rp. 166 ribu). Hiks, hampir 4 kali lipat dibandingkan negara kita. Bahkan, kita harus menambahkan beberapa sen untuk untuk meminta saus tomat. Dari pengalaman saya, ini lebih mahal dibandingkan dengan Perancis dan Singapore. Dua negara yang menurut saya sangat mahal.

Selidik punya selidik, penganut monarki konsitusional ini adalah salah satu negara dengan pendapatan perkapita tertinggi di dunia. Tak aneh memang, karena Denmark juga memuncaki peringkat negara dengan Indeks Persepsi Korupsi terbaik. Survei juga mengatakan bahwa negeri Ratu Margrethe II ini adalah "tempat yang paling menyenangkan di dunia", dipandang dari standar kesehatan, kesejahteraan, dan pendidikan. Kajian lain juga menempatkan Denmark menduduki posisi negara paling damai kedua di dunia. Iriii.....

Kawasan tanpa Batas

Source: https://www.brilio.net
Aktivitas kehidupan penduduk Skandinavia memang seolah tak mengenal batas negara. Seseorang bisa saja menetap dan bekerja di negara yang berbeda. Selain karena jarak yang tidak terlampau jauh, konektivitas transportasi di kawasan ini adalah salah satu yang terbaik. 
 
Kami hanya perlu naik kereta dari Kobenhavn Central untuk mengunjungi Malmo yang berada di negara Swedia.  Hanya perlu naik ferry untuk berpindah dari Helsingor (Denmark) ke Henlsingborg (Swedia). Lama perjalanan untuk kedua migrasi ini pun tidak lebih dari satu jam saja. Bahkan, mereka pun dapat berpindah negara hanya untuk mencari kebutuhan sehari - hari. Mantab, mungkin inilah ketika batas antar negara hanya berada di atas kertas.
 
Jika diperhatikan, bendera nasional negara Skandinavia ini hampir sama. Perbedaan hanya pada warna dasar dan warna palangnya. Dalam sejarahnya, Denmark adalah yang pertama kali menggunakan bendera dengan corak warna merah dan putih. Sebenarnya, selain kelima negera tersebut, ada dua wilayah otonomi Denmark yang membentuk pemerintahan sendiri, Kepulauan Faroe dan Greenland.

Selain bendera yang seragam, bahasa - bahasa di Skandinavia juga sangat berkaitan dan kebanyakan bisa saling memahami satu sama lain. Sebaliknya, nilai mata uang mereka yang tidak sama. Jika 1 EUR = 7 DKK, maka nilai tukar 1 EUR = 9 SEK (Swedish Krona). Harga barang dan makanan di Swedia jauh lebih murah daripada di Denmark. Mungkin hal ini disebabkan dengan tingkat perekonomian masing - masing.
 
Berkunjung ke KBRI Copenhagen
Hubungan diplomatik Indonesia dengan negara Skandinavia dilakukan dengan penempatan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di masing - masing negara.  Mengingat banyaknya negara - negara kecil di sekitar kawawan ini, satu KBRI merangkat untuk negara kecil lain di luar Skandinavia. 
 
Kami yang berkunjung ke KBRI Copenhagen, baru mengetahui jika kantor kedutaan ini merangkap untuk Denmark dan Lithuania.  Hal ini tidak berbeda dengan KBRI lain di Skandinavia: KBRI Helsinki untuk Finlandia dan Estonia, KBRI Oslo untuk Norwegia & Islandia, KBRI Stockholm untuk Swedia dan Latvia. Bingungnya, bagaimana penerapan peraturan yang mengharuskan setiap Warga Negara Indonesia yang berkunjung ke negara lain untuk jangka tertentu harus melaporkan ke KBRI ? Kalau untuk keperluan dinas mungkin tidak menjadi masalah, tapi untuk backpacker tentu tidak mudah.

Beburu Makanan Halal

Seperti sebagian besar kawasan Eropa Barat, negeri yang terkenal dengan patung "Little Mermaid" ini memiliki penduduk yang multikultural. Menurut wikipedia, 10% populasi Denmark adalah imigran dari Eropa, Asia, dan Afrika. Hal ini dapat terlihat dari keanekaragaman yang ada, salah satunya adalah rumah makan. Di sekitar area kami menginap, banyak ditemukan aneka resto yang menyajikan aneka hidangan, mulai dari hidangan lokal, makanan Italia, Perancis, China, dan Turki.

Danish Breakfast
Makanan pokok di negara ini adalah kentang, dan mereka sangat membanggakan kentang produksi lokal. Kentang Denmark berukuran lebih kecil, namun menurut mereka rasanya sangat khas dan berbeda dengan produk negara lain. Jadi kalo ditanya apa makanan khas Denmark, pasti mereka akan menjawab "Potatoes".

Mereka mengkonsumsi dan mengolah kentang dengan berbagai cara menjadi aneka masakan. Biasanya hanya disajikan dengan cara kukus, panggang atau bakar. Kentang Denmark memang memiliki rasa dan tekstur yang berbeda meski hanya  dipanggang tanpa banyak bumbu dan tidak dikupas.

Sayangnya, selain kentang, negeri Hans Cristian Andersen ini tidak memiliki produk pertanian yang lain. Bahkan untuk buah dan sayuran, mereka harus import dari negara lain. Dan itupun yang tampak hanya pisang, pir, jeruk, dan apel. Sayur juga nampak tidak beragam. Bahkan beberapa hari di kantor suplier lokal, menu makan siang hanya nampak wortel, selada, kubis ungu, dan bawang bombai.

Danish Lunch
Bagi moslem traveler, mencari makanan dengan standar "halal" tinggi memang agak susah. Menu sarapan di hotel sebagian besar adalah sereal, susu, buah, dan aneka roti dengan berbagai pilihan selai dan daging lapis.

Nah, untuk daging lapis ini silahkan berhati - hati. Meski tertulis turkey (kalkun) atau chicken (ayam), tidak ada jaminan halal. Kami mengetahui hal ini setelah berbincang dengan salah satu chef yang berasal dari Pakistan. Pilihan aman adalah dengan sereal, telur rebus, susu, dan roti tawar/manis. Satu yang menyelamatkan, bekal mie instan dan sambal sachet yang kami bawa dari Indonesia. Nikmatnya...

Untuk makan siang dan malam, carilah restoran Turki. Untuk kemudahan, sebelum berangkat sebaiknya jangan malas berselancar untuk mencatat nama dan alamat restoran yang ramah bagi muslim. Jika letaknya jauh dari rute dan ada momen yang tidak memungkinkan (seperti jamuan makan malam), silahkan memesan menu vegetarian. Meskipun tidak saya rekomendasikan, karena salah satu isi menu vegienya adalah keju lokal yang rasanya sangat tajam dan aneh, bahkan menurut penduduk lokal sekalipun.. Hahahaha...

------------------------------

Banyak hal menarik yang dapat kita explore di Kawasan Viking ini, untuk itu persiapkan perjalanan dengan baik. Selain memilih pakaian sesuai dengan musim yang tepat, mendata tempat makan halal akan membuat perjalanan anda lebih mudah dan cepat. Karena tak akan pernah cukup waktu kita untuk menikmati keindahan negara ini, jangan buang hanya dengan berputar - putar mencari makanan.. Atau, siapkan saja makan mie instan dan roti selama petualanganmu. 

(Catatan Februari 2015).
Read More »»»

Monday, December 12, 2016

Semen Indonesia, We are The CHAMPS!!!

Restrukturisasi bagi sebuah organisasi adalah sesuatu yang lumrah, apalagi didalam perusahaan yang melakukan transformasi. Struktur yang baru diharapkan mampu memenuhi kebutuhan korporasi yang melangkah menuju perubahan. 

A great corporations must have a flexible organizational structure, which can adapt to constant changes in technology and fluctuations in the market (Don Hellreigel).

----------------------------------------

Center of Engineering

Di tahun 2014, perusahaan melakukan transformasi guna menyesuaikan visi dan misi korporasi. Saat itu, lompatan besar terlihat pada penetapan visi baru perusahaan: "World Class Engineering Company". Radikal memang. Korporasi tidak lagi berfokus pada bisnis semen, tapi berupaya mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul yang memiliki daya saing tinggi.

Engineering Team pada masa awal transformasi menuju CoE
Salah satu langkah strategis yang dilakukan dalam pemenuhan visi tersebut adalah pendirian "Semen Indonesia Center of The Champs (SICC)". Sebuah wadah yang diharapkan mampu berperan dalam membangun kompetensi Perseroan dalam melahirkan tenaga profesional di bidang persemenan, khususnya rancang - bangun (engineering).

Hal ini menjadi angin segar, khususnya bagi kami di Engineering. Kami yang awalnya hanya dianggap sebagai supporting unit, akan menjadi inti atau pusat dari pengembangan perusahaan ke depan. Sebuah keberuntungan, saya terlibat dalam banyak tahapan awal pembentukan salah satu pilar utama SICC, yaitu Center of Engineering (CoE).

Pada tahap awal, dibantu dengan konsultan kami melakukan identifikasi/mapping sumber daya engineering saat ini (as is assessment), pembentukan struktur organisasi baru, dan penetapan objective dari setiap unit yang dibentuk. Tahapan ini berjalan relatif mudah. Namun, permasalahan muncul saat implementasi, banyak hal yang harus disesuaikan dan dilengkapi. 

Tantangan besar lainnya, kami harus mampu menyusun road map dan strategic initiative jangka panjang, yang dilanjutkan dengan penetapan rencana langkah kerja yang diperlukan untuk jangka pendek. Semua itu harus dilakukan dengan cepat, mengingat tenggat waktu yang diberikan sangat terbatas. Saat inilah, semua ilmu S2 saya, khususnya dalam managemen strategis dan SDM benar - benar bermanfaat dan diuji. Hahaha...

Menyesal saya dulu tidak mempelajari secara mendalam setiap contoh kasus yang diberikan. Saya terpaksa harus mempelajari ulang banyak literatur dan best practice sejenis di perusahaan lain. Karena sumber yang ada kami rasa masih kurang, akhirnya tim  melakukan study banding (benchmarking) ke PT Rekayasa Industri.

The Champs Was Born

Sebagai sebuah wadah baru, kelengkapan organisasi menjadi sesuatu yang harus dipersiapkan. Masalah utamanya, waktu yang terbatas. Bertepatan dengan perayaan 1 tahun pembentukan strategic holding Semen Indonesia, CoE akan diperkenalkan terlebih dahulu pada 7 Januari 2014. Mendahului launching resmi SICC yang akan dilaksanakan berikutnya. Pada saat itu, CoE masih berupa embrio dimana kelengkapan organisasi belum lengkap.

Satu persatu kelengkapan organisasi ini mulai diisi. Pemenuhan personel awal dilakukan pada April 2014 melalui gerbong mutasi dan promosi, dimana saya menjadi salah satu penumpangnya. Hehehe... Kehadiran personel ini diharapkan mampu melakukan speed-up terhadap pemenuhan kelengkapan organisasi menjelang launching.

Launching SICC di Balai Kartini, Jakarta
Saya yang banyak terlibat sejak awal dalam pembentukan, mendapat kepercayaan membuat semua materi branding CoE. Pembuatan logo, penyusunan profile, pemenuhan materi pameran, dan desain merchandise. Seuatu yang menantang, mengingat tugas ini diluar akvitas pekerjaan biasanya dan segala sesuatu tentang CoE masih "misterius".

Alhamdulillah, dengan dibantu kerja keras serta kreatifitas tim desain dan multimedia, semua materi yang diperlukan untuk launching dapat selesai tepat waktu. Bahkan saya dipercaya untuk membantu penyusunan materi branding dan pameran untuk SICC, dan beberapa center yang lain.

Puncaknya, SICC di launching secara resmi pada 28 Agustus 2014 di Balai Kartini, Jakarta. Perasaan lega dan banyak ucapan syukur, saya dapat terlibat dalam sebuah milestone penting perusahaan milik bangsa ini. Bahkan ketika saya tidak lagi di CoE, kesempatan tersebut menajadi pengalaman berharga bagi karir  saya di Komunikasi Perusahaan saat ini
-----------------------------------------

Salah satu semangat yang di usung korporasi dalam kelahiran CoE adalah untuk menjawab pertanyaan berikut: "Kenapa  kita selalu menggunakan teknologi dari negara lain? Kenapa kita tidak berupaya untuk menguasai teknologi tersebut sehingga mempu mengelola kekayaan bangsa ini secara mandiri?" Sebuah cita-cita besar, namun jika semua komponen mau berupaya dan bekerja keras, hal ini bukan sesuatu yang mustahil. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Indonesia BISA....


--------------------------

We don't grow when things are easy, We grow when we face challenges (Anonim)

(Agustus, 2014)

Read More »»»

Tuesday, December 06, 2016

Kedinginan Nonton Konser Psy, Big Bang & 2NE1 di Seoul

Korea Selatan tidak hanya menginvasi dunia melalui teknologi saja, negeri ini telah menyebar virus budaya ke seluruh dunia. Tahun 2012 lalu, goyang "Gangnam Style" mewabah tidak hanya di kalangan masyarakat umum, tapi telah menjangkiti para selebritis  papan atas dunia. Apalagi di Indonesia, boyband dan girlband Korea telah menginspirasi munculnya produk tiruan sejenis. Korean Pop telah melanda dunia. Meskipun sekarang sudah tidak separah 2013 lalu, tapi DraKor (drama korea) masih merajai tontotan pula.

-------------

Kedinginan di Musim Gugur

Sebelum menggigil di Petite France
Saya mengawali traveling di Korea Selatan dengan mengunjungi Seoul pada pertengahan Oktober 2014. Menurut situs perjalanan, ibukota ini seharusnya berada pada musim gugur dengan suhu berkisar belasan derajat celcius. Faktanya, tiga hari disini saya merasakan fluktuasi suhu berkisar 5 - 15C (menurut temperatur alami, alias penyesuaian tubuh).

Pada pagi hari, suhu relatif nyaman namun membikin saya posesif dengan kasur. Di siang hari, sinar matahari membuat kita bisa menikmati perjalanan hanya dengan mengenakan kemeja lengan panjang. Namun, di malam hari, kami merasakan sensasi kedinginan yang sangat menyiksa tubuh.

Hal ini saya rasakan saat menunggu bus dari Petite France menuju stasiun kereta untuk kembali ke Hostel. Parahnya, saya hanya memakai jaket gunung karena pada hari sebelumnya suhu tidak ekstrim. Mungkin ditambah efek kami yang kelaparan karena belum menemukan tempat makan yang rekomen di kantong dan pastinya halal. Tapi jangan khawatir, kota ini menyediakan produk fashion untuk penunjang penampilan dan pengusir dingin yang lengkap, dan ramah kantong backpacker. 

Konser K-Pop Gratis

Datang ke Korea, belum lengkap jika tidak menonton konser K-Pop. Alhamdulillah, saya berkesempatan menghadiri konser bintang K-Pop ternama: Psy, Bingbang, dan 2NE1 secara GRATIS!!!

Tiket gratis ini saya dapatkan dari rekan perjalanan saya yang berangkat dua hari sebelumnya. Ceritanya, dia yang penggila K-Pop ini datang ke suatu pameran budaya. Di salah satu stand, ada yang membangikan tiket gratis konser K-Pop bagi wisatawan asing yang tertarik dengan budaya baru ini. Terlihat bahwa pelaku wisata di Korea sangat masif mempromosikan industri musik ini. Langsung saja teman saya mengambil dua buah tiket gratis.

K-Pop Style
Saya sebenarnya tidak terlalu berminat dengan menyaksikan konser, namun kalo gratis kenapa harus ditolak. Bahkan, kami datang ke Lotte FITIN 1 jam sebelum pertunjukan, karena takut gak kebagian tempat.

Sebelum acara dimulai, setiap pengunjung masuk kesebuah studio kecil untuk diminta bergaya dengan beberapa pose.. Cekrek - cekrek... Entahlah, kami ikutan saja, tak tahu untuk apa.

Setelah semua penonton masuk, saya mulai curiga kok sedikit sekali. Jangan - jangan ini konser lagu mereka yang dinyanyikan oleh  oleh penyanyi lain. Ato malah pertunjukan lipsync ala drag queen.. Hmmmm... Gak mungkin lah sekelah Psy mau nyanyi tiap malam dengan penonton tidak lebih banyak dari penonton bioskop saat premiere film ternama..

Begitu dimulai, saya semakin penasaran.. Dan puncaknya, yapp Psy muncul beneran di panggung. Hebatttttt.... Dengan menyanyikan beberapa lagunya diiringi oleh beberapa dancer. Jujur, saya hanya tahu lagu Gangnam Style... Begitu interaksi dengan penonton, kami baru sadar... Psy yang muncul hanya berupa hologram.... Hahahhaha...

Foto Bareng 2NE1

Meski konser hologram, K-Pop Concert ini sangat menarik bagi saya. Penataan panggung yang optimal mampu menghasilkan efek 3D hologram yang menimbulkann ilusi mata. Didukung oleh aktor dan aktris yang berinteraksi dengan hologram memberikan kesan hidup dan nyata. Di tengah pertunjukan, efek dry ice dan semprotan embun air makin membuat penonton serasa berada dalam konser asli.

Adanya beberapa gimmick dari artis pendukung membuat penonton semakin terbius suasana konser. Salah satunya adalah undian gratis untuk berfoto bersama sang artis. Nah, disini saya baru tahu kenapa kami diminta memasuki ruangan untuk foto dengan aneka pose.. Foto - foto penonton inilah yang diundi acak untuk mendapatkan hadiah photo box gratis bersama salah satu artis. Rejeki kami, saya mendapatkan foto gratis bersama 2NE1 dan teman saya foto gratis dengan Bigbang. Meskipun sedikit malu melihat foto saya yang ditambahkan poni muncul di layar besar yang dilihat pengunjung..

Sekali lagi, artis yang diajak berfoto adalah dalam bentuk hologram.

 -----------------------------------

Selain budaya K-Pop, keindahan kota Seoul dan Busan dalam beberapa drama televisi menarik minat saya untuk mengunjungi. Tak hanya itu, saya adalah pemakai produk elektronik negeri ini, hampir semua home equipmet saya merupakan besutan negeri ini. Otomatis, negeri gingseng ini telah masuk dalam wishlist saya sejak 2012.

Satu kenangan indah lainnya adalah perjuangan mendapatkan visa Korea Selatan. Saya  yang mempercayakan pengurusan visa ke travel agent masih harus kerepotan karena adanya aliran dana  kegiatan perusahaan yang cukup besar ke rekening saya. Saya diminta datang menjalani interview ke Kedutaan di Jakarta. Akhirnya, saya harus mengorbankan cuti dan uang tiket tambahan. Setelah 1 jam mengantri, saya ternyata tidak perlu interview karena semua klarifikasi sudah lengkap dan visa saya sudah di approve. Antara senang dan sedih.

(Oktober 2014)
Read More »»»

Sunday, April 03, 2016

Catatan Pekerja: Ready when your Opportunity Comes

Banyak orang merasa karir dan pekerjaan tidak menantang atau stagnan karena tidak mendapatkan kesempatan untuk  berkembang. Dalam pekerjaannya, semua orang merasa selalu "terpaksa" melakukan hal yang "itu - itu saja" tanpa mendapatkan kesempatan melakukan sesuatu yang mampu mengeksplor dan menunjukkan kemampuan  kita. Seringkali ketika melihat hasil karya orang lain,  kita dapat dengan mudah berkata "saya bisa melakukan hal itu dengan lebih baik".

Memang mudah mengkritisi hasil karya orang lain. Tapi apakah kita siap, melakukan pekerjaan serupa berulang kali. Seiring berjalannya waktu dan keinginan, hal yang "besar" akan menjadi hal kecil, begitu seterusnya. Perlu diingat, dalam sistem perusahaan, ada batas - batas tegas yang tidak bisa kita langkahi, entah itu unit kerja, wewenang, tugas, maupun biaya. Tidak enak ? Ituah risiko sebagai karyawan. Semakin besar suatu perusahaan, akan semakin banyak rambu yang harus diperhatikan.

Semangat Kami di Awal Karir


Orang selalu lupa, sesuatu yang besar diawali dari aktivitas kecil yang seringkali kita anggap sepele.  Sebagai "pekerja", kompromi merupakan makanan yang harus siap dinikmati. Jangan ragu melakukan sesuatu yang "remeh", karena suatu hasil akhir yang sukses adalah gabungan dari semua elemen kecil. Tidak perlu risau apakah pekerjaan kita akan mendapatkan apresiasi, karena keberhasilan adalah melakukan apa yang telah kita rencanakan, bukan pujian atau harapan orang lain.

Kondisi nyaman cenderung membuat kita terlena. Pada awalnya, perubahan memang selalu menakutkan. Namun banyak hal yang akan memacu kita untuk beradaptasi dengan belajar. Ketika dipindahkan tugas dari engineering ke administrasi teknik, saya merasa terbuang. Dari aktivitas kunci menjadi kegiatan pendamping, yang bahkan keberadaannya serasa tidak dibutuhkan. Perlu waktu lama bagi saya untuk bernegosiasi, baik dengan suasana kerja maupun dengan keinginan saya sendiri.

Secara perlahan, mutasi tersebut memberi banyak hal positif bagi saya. Perubahan struktur dari staffing menjadi struktural melatih saya beradaptasi dengan segala urusan administrasi dan birokrasi. Paling penting, posisi saya sebagai manager mengharuskan saya mengelola keuangan dan sumber daya manusia, sesuatu yang tidak saya dapatkan ketika sebagai engineer. 

Ketika terjadi pergantian pimpinan, semakin banyak hal baru yang saya pelajari di tempat ini. Feasibility study, cost budgeting, project control, knowledge management, dan strategic planning. Satu yang paling penting, saya belajar untuk melihat sesuatu secara positif. Terima dengan tebruka, dan kita akan mendapatkan sesuatu yang tak pernah kita perkirakan.

Seiring dengan perkembangan holding korporasi, banyak perubahan besar dalam struktur organisasi. Kesempatan terbuka, dan alhamdulillah saya dinilai siap untuk promosi memimpin unit kerja baru, tentu saja dengan peningkatan karier. Saya sangat senang, bukan semata kenaikan karier, tetapi saya memang terlibat dalam seluruh proses perubahan tersebut. Dapat dikatakan, keadaan yang memaksa saya untuk berubah dan belajar banyak hal baru telah membuat saya lebih siap menyambut peluang yang ada.

Kita selalu meminta kesempatan, namun kita sendiri tidak mau berubah. Ketika kesempatan datang, kita belum siap. Kita seringkali menunggu datangnya kesempatan dengan nyaman, tanpa mempersiapkan diri untuk selalu belajar dan meningkatkan kualitas diri.

"Opportunity doesn't make Appointments, You have to be ready when It arrives" (Tim Fargo).

April 2014 
Read More »»»

Tuesday, February 09, 2016

Australia: There's Nothing Like You..

Keinginan saya menjelajah Benua Australia di tahun 2012 ternyata belum kesampaian. Dalam perjalanan dinas ke Tuban, saya mendapat kabar jika visa saya ditolak dengan alasan kondisi aliran dana di rekening saya yang mencurigakan (hanya ada masuk). Kesalahan saya memberikan rekening koran untuk tabungan yang memang saya gunakan hanya sebagai penyimpanan. Alhasil, saya harus mengikhlaskan tiket Denpasar - Darwin  return...

Dua tahun kemudian, tepatnya April 2014, saya akhirnya berhasil mengunjungi negeri kanguru. Kali ini dengan pilihan rute penerbangan yang berbeda. Saya memilih masuk melalui Sidney, dan kembali melalui Melbourne, dimana kedua penerbangan ini harus transit di Kuala Lumpur. Yup, saya terbang ke Malaysia dulu dan baru ke selatan lagi.. Risiko tiket murah, perjalanan lebih lama tergantung hub penerbangannya.

Sidney.... You're So Fine

Bulan April di Sidney cuaca masih terasa bersabahat bagi tubuh. Dengan suhu di kisaran 10 - 18 derajat Celcius, kaos lengan panjang dan sweater adalah pilihan bijak. Setelah menaruh ransel di Hostel, kami langsung berkeliling Darling Harbour untuk menikmati senja kota ini. Suasana dermaga cukup ramai, banyak deretan kafe dan food stall yang menjajakan aneka pilihan menu.

Tintin & Traveling
Di tengah perjalanan, saya melihat ada seorang pelukis jalanan yang sedang melukis. Lukisannya bergaya seperti fresco yang banyak ditemukan di gereja Eropa. Kalo mau lihat hasil lukisannya silahkan mampir ke instagram @pepegaka. 

Hari kedua, kami mengawali perjalanan dengan mengunjungi Bondi Beach. Alhamdulillah hari cukup cerah dan matahari bersinar terik.  Saya memutuskan memakai celana pendek dan sneaker (saya akhirnya membeli sandal Quicksilver yang sedang diskon disini). Pemandangan di pantai ini sangat indah. Di kejauhan sekililing pantai terlihat deretan rumah dan bangunan yang berjajar rapi. Pasir pantai sangat bersih, dan dibagian luar adalah hamparan rumput hijau yang rapi dan tebal. Sangat menyenangkan untuk berjemur dan sekedar membaca buku sambil mendengarkan musik. 

Sore harinya, kami mengunjungi icon kota ini, Sidney Opera House.. Sebenarnya, kami ingin melihat pertunjukan disini, namun sekali lagi harga tiket menjadi kendala. Akhirnya kami memutuskan berfoto saja sepuasnya dan menikmati makan malam di kafe sekitar gedung. Demi mendapatkan latar belakang Opera House dan Harbour Bridge, kami rela merogoh kocek cukup dalam untuk makan malam. Namun semua worth it..

Hari terakhir di kota ini kami memutuskan mengunjungi Taman  Nasional Torangga, demi mengunjungi Three Sister di Blue Mountain. Pengalaman seru ketika kami harus berjalan naik turun dari Sightseeing Bus yang ternyata hanya kami gunakan  beberapa kali. Adrenalin saya terasa memuncak ketika kami memasuki salah satu dari tiga Three Sister, dengan sedikit melupakan ketakutan saya akan ketinggian. 

Canberra... Capital City of Australia

Perjalanan ke kota ini boleh dibilang penuh perjuangan. Jam 6 pagi, kami harus berlari menuju stasiun untuk mendapatkan bus pertama menuju kota ini. Kenapa? Perjalanan Sidney - Canberra memerlukan waktu 5 jam dengan bus, plus 4 jam dengan kereta api. Rute ini adalah yang paling hemat biaya, dan hanya ada satu trip dalam sehari. Bagi yang berkantong tebal, menggunakan pesawat adalah pilihan bijak.

Canberra dari Puncak Telstar Tower

Perjalanan bus dari Sydney ke Albury (tempat kami berganti kereta) ini cukup menyenangkan. Terutama ketika melalui pedesaan yang penuh hamparan rumput dan beberapa pohon besar, indah sekali. Saking capeknya, saya sampai tertidur. Ketika bangun, ternyata pemandangannya masih sama. Saya mulai merasa aneh. Jalan sangat sepi, tapi mengapa driver melajukan kendaraannya dengan cukup lambat. Ternyata, aturan kecepatan maksimal adalah 60 km/jam. Beda sekali dengan gaya menyetir bus di Indonesia, jalanan macet saja mereka masih memaksa untuk ngebut dan menyalib.

Canberra ini adalah kota kecil yang rapi dan bersih. Orang tidak akan berpikir ini adalah ibukota negara Australia, karena suasananya kotanya yang sangat sepi dibandingkan Sidney. Jam 7 malam jalanan sudah lengang, bahkan terlihat beberapa kanguru yang mulai loncat - loncat di jalan. 

Malam itu, kami menginap di rumah Mas Yudhi, salah seorang staf Kedutaan Indonesia. Kami diajak berkeliling menikmati malam di Kota ini. Meminum kopi di salah satu kafe lokal, Koko Black. Sumpah, kopi disini enak sekali, ditambah udara yang lebih dingin dibanding Sidney. Karena perut masih keroncongan, kami memutuskan membeli Potatoes Gravy di salah satu truck food. Untuk makan malam, kami membeli daging kanguru mentah untuk kami masak di rumah. Daging kanguru memiliki rasa hampir sama dengan daging sapi, hanya teksturnya yang sedikit keras dan tidak berlemak. Nikmat sekali di makan bersama white wine koleksi Mas Yudhi.. Matur suwun mas.

Keesokan harinya,  Mas Yudhi mengajak kami berkeliling kota. Diawali dari Parliament House, Telstar Tower, Australian War Musuem, dan Autralian Museum. Gedung dewan disini dibuka untuk umum, dan katanya warga umum boleh menghadiri ketika ada sidang terbuka. Ruangan sidang ada yang disebut Blue Room dan Pink Room, yang dinamai sesuai warna dominan dikedua ruangan. Dari Telstar Tower, kami bisa menikmati pemandangan Canberra dari atas, meski saat itu angin bertiup cukup kencang. 

Untuk yang menyukai sejarah peperangan dengan aneka barang peninggalannya berupa pesawat temput, tank, dan aneka jenis senjata silahkan mampir ke War Museum. Anda pasti senang sekali. Dengan tergesa gesa, kami berlari memasuki Australian Museum. Sayangnya, museum ini hari itu hanya dibuka sampai dengan pukul 5 sore. Padahal saya senang sekali. Selain gratis, museum ini terbilang memiliki desain yang modern dan futuristik.. Ah, kapan kapan saya akan kembali...

Perjalanan di kota ini diakhiri di Australian National University, tempat beberapa pejabat negara pernah mengenyam pendidikan. Ah, semoga suatu saat saya  bisa mewujudkan mimpi untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri..

Melbourne.. Urban City...

Kami mengira punya waktu dua hari dua malam untuk menjelajahi Melbourne. Setelah mengecek jadwal penerbangan, ternyata kami hanya punya waktu dua hari dan satu malam. Karena waktu yang terbatas, kami memilih menikmati kota ini dengan segera dan berlari - lari.

Hari pertama, kami bertemu dengan Mas Raka di Southern Cross Station. Selanjutnya kami diajak berkeliling di downtown untuk melihat berbagai sudut kota. Kami memutuskan untuk berfoto foto di depan Flinder Station, dan membeli oleh - oleh di jajaran toko souvenir sepanjang jalan. Ternyata pemilik souvenir yang kami singgahi adalah seorang keturunan Vietnam yang dulu pernah menjadi pengungsi yang bermukim di Pulau Galang. Tak ayal sang pemilik mampu berbahasa Indonesia dan bercerita bahwa keluarganya telah mendapatkan suaka di negara ini.


Good Bye Australia...
Karena cukup dingin, kami memutuskan untuk menghangatkan badan dengan sedikit wine di dekat apartemen Mas Raka. Karena cukup lelah, kami putuskan untuk pamit kembali ke Hostel dan beristirahat untuk melanjutkan petualangan keesokan hari.

Keesokan harinya kami mengawali perjalanan dengan mengunjungi Melbourne Musseum yang bisa kami tempuh dengan berjalan kaki dari Hostel. Seperti kebanyakan museum yang kami kunjungi di Australia, bangunan di desain dengan gara minimalis modern. Meneruskan perjalanan, kami berjalan menyusuri pedestrian menuju City Hall. Yang menarik bagi saya adalah desain tempat parkir sepeda yang sangat unik.

Memasuki waktu makan siang, kami menuju ke Victoria Market. Akan tetapi, hari itu adalah hari libur bertepatan dengan salah satu hari besar (kami lupa perayaan apa). Setalah makan siang di kedai Malaysia, kami menaiki Trem menuju Melbourne Aquarium untuk menemui Mas Raka.

Kami diajak memasuki aquarium dan berfoto di pintu keluar, dan semua gratis. Terima kasih mas. Saat di bagian akhir yang menampilkan kolam Penguin, sirine kebakaran berdering. Otomatis seluruh pengunjung diminta untuk keluar. Kata Mas Raka, hal ini biasa terjadi. Entah karena error atau memang ada masalah pada alarm. Begitu sampai luar, terlihat dua buah mobil PMK sudah siaga, meski ternyata tidak ada kebakaran. Beruntung kami sudah selesai berkeliling aquarium.

Kami melanjutkan perjalanan dengan menikmati daerah tepi sungai di dekat Victoria Univesity. Kami memutuskan duduk diatas rumput yang cukup rapi dan indah, yang ternyata adalah rumput sintetis. Ketika hari mulai senja, kami berpindah ke downtown untuk mengunjungi sebuah jalan yang dipenuhi dengan aneka gradity. Tempat yang pas untuk berfoto. Selanjutnya kami menikmati kopi lokal di deretan toko di sebuah gang sempit. Perfect...

Satu obsesi saya yang belum terlaksana di Melbourne adalah mengunjungi toko roti Adriano Zumbo. Dari beberapa sumber di internet, toko kuenya ternyata terletak cukup jauh dari tempat kami menginap. Lain kali mungkin...

Karena harus segera menuju bandara, kami memutuskan untuk berpisah dengan Mas Raka dan kembali ke Hostel untuk mengambil backpack dan menunggu shutlle bus.


Good Bye Australia...


Read More »»»

Monday, May 04, 2015

Lost in Penang


Salah satu yang menyenangkan dari traveling adalah melepaskan kita dari kemonotonan rutinitas. Kebebasan waktu memang sesuatu yang tak ternilai ditengah pola hidup yang memaksa kita untuk sibuk dengan berbagai kegiatan dan urusan. Memang susah dijelaskan, namun suatu saat kita pasti akan mengalami momen kejenuhan yang teramat sangat, bahkan jika pekerjaan itu sesuai dengan passion kita.
---------------------------------------------

Sito Pien in Penang
Ketika saya menerima email dari host saya di Verona yang mengabarkan rencana business travelnya ke Myanmar, saya spontan langsung "I'll be there with you". Bukan di Myanmar, kami sepakat untuk bertemu di Kuala Lumpur untuk melanjutkan perjalanan ke Penang bersama. Bagi saya, Penang menyimpan catatan penting dalam karir backpacker saya. Yup, ini destinasi pertama saya untuk solo backpacker keluar Indonesia.

Bus menuju Penang dapat kita temui di Terminal Puduraya. Ingat, jangan terpengaruh dengan calo. Silahkan menawar harga yang diberikan dan lakukan pengecekan untuk memastikan kondisi bus sesuai promosi calo dan ekspektasi kita. Gak enak kan kalo lima jam perjalanan akan dihabiskan dengan tidak nyaman plus hati gondok karena merasa tertipu. Tapi tenanng, rute ini menyuguhkan jalanan yang bersih dengan beberapa ruas di hiasi dengan perkebunan kelapa sawit yang luas. Di tengah rute, bus berhenti satu kali untuk memberi kesempatan kepada penumpang ke toilet atau membeli snack untuk menemani sisa perjalanan.

We are Lost...!!!
Karena pernah mengunjungi kota ini, saya menjadi tour planer dan amateur guide dadakan. Membuat itenerary, memilih tempat menginap, sampai membuat list tempat makan pun saya lakukan. 

Penang memiliki berbagai jenis wisata dalam satu area, mulai dari city tour (Georgetown), pantai berpasir (Batu Feringhi), bukit nan hijau (Penang Hill), maupun Taman Nasional (Taman Negara Pulau Pinang). 

Satu  destinasi wajib adalah Bukit Bendera (Penang Hill). Alasannya, pada kunjungan di tahun 2011, saya gagal mencoba Penang Tram  karena sedang maintenance. Horayyyyy..

Tiba di gerbang tiket, antrian pengunjung cukup ramai. Maklum, nuansa liburan akhir tahun masih terasa. Ditengah antrian, kami berbincang dengan tour guide lokal mengenai obyek wisata ini. Ternyata, menuju ke puncak bukit bendera dapat dilakukan dengan banyak cara. Selain Tram, kita bisa menyewa jeep, menggunakan kendaraan pribadi, atau pendakian. Adrenaline kami langsung terpacu, apalagi setelah melihat harga tram yang mahal, 30 MYR pp. Hasil diskusi dan kompromi, kami memilih untuk memberli tiket one way dan akan tracking untuk turunnya.

--------------------------------------------------

Selesai menikmati puncak bukit bendera. Dengan informasi terbatas dan tanpa peta (petugas bilang peta habis), kami memulai tracking dengan penuh keyakikan. Jalur pejalan kaki dan papan petunjuk yang jelas di awal rute semakin membangkitkan semangat kami. Kami pasti bisa...

Toss....
Satu kilometer pertama, jalur tracking masih mudah diikuti karena diberi paving khusus. Memasuki kilometer kedua, kami mulai diragukan dengan adanya percabangan. Mengikuti naluri dan insting berdasarkan jalan yang terlihat lebih baik, kami semakin jauh menembus rute yang berubah menjadi hutan. Puncaknya, kami bertemu dengan rambu larangan memasuki kawasan pribadi. Fix, kami tersesat.

Bukannya menyerah, harga diri kami sebagai backpacker makin membakar semangat untuk terus melaju. Dengan bekal petunjuk seadanya dan altimeter di jam tangan Beppe, kami melaju cepat. Berulang kali kami merasa yakin sudah menemukan jalan yang benar, tapi saat itu kami harus menelan kekecewaan. Vihara, Pos Penjaga Kebun Jeruk, Tempat Pembaptisan, dan Private Bungalow adalah beberapa kejutan yang kami jumpai.

Setelah 4 jam perjalanan, kami berhasil mencapai lembah dan perkampungan pada pukul 21.30 malam. Kami langsung saja naik ke bus menuju Komtar, cari makan malam dan minum untuk merayakan pengalaman kami sampai dini hari. Cheers.....
Read More »»»

Monday, September 29, 2014

JFC 2013: When Art meet Technology & Illusion..

Acara ini menasbihkan diri sebagai karnaval terbesar di Indonesia dan mengklaim ssebagai yang terbesar ke-empat di dunia, setelah Mardi Grass, Rio de Janeiro Carnaval, dan Fastnatch Koln. Jember Fashion Carnaval (JFC) ke 12 tahun 2013 mengambil tema utama "Artechsion (Art meet Technology & Illusion)" dengan 10 tema defile: Tibet, Betawi, Venice, Artdeco, Bamboo, Octopus, Canvas, Tribes, dan Spider. Pagelaran utama (show time untuk fashion show) digelar secara marathon dalam 3 hari: Kids Carnical (23 Agustus), Art Wear Carnival (24Agustus), dan Grand Carnival (25 Agustus).




Menuju ke Jember dengan transportasi umum dapat dilakukan dengan dua pilihan, kereta api atau Bus Antar Kota. Perjalanan kereta api memakan waktu kurang lebih 3 jam dari Stasiun Gubeng, Surabaya. Sedangkan Bus Kota memerlukan waktu lebih lama, kurang lebih 4 jam sampai di Terminal Purabaya, Sidoarjo, Untuk transportasi dalam kota, angkotan kota (angkot) bisa menjadi pilihan dengan tarif Rp. 2000 - Rp. 4000. Alternatif lain adalah dengan menggunakan becak.. Taxi tersedia dalam jumlah terbatas, tidak mudah menemukannya. Dalam kondisi seperti ini, banyak bertanya dan bersabarlah. Atau bisa menikmati suasana dengan berjalan kaki..



Untuk akomodasi, sangat tidak disarankan untuk go show. Beberapa jalan utama yang di tutup/dialihkan akan membuat proses perburuan penginapan menjadi riskan dan memakan banyak waktu. Agar lebih nyaman, carilah penginapan yang terletak dalam rute carnaval sehingga tidak repot - repot mencari transportasi atau jalan kaki yang jauh. Di sepanjang Jalan Jaksa Agung ada beberapa hotel melati yang bisa menjadi pilihan dengan harga relatif terjangkau .Keuntungan lain, area ini merupakan kawasan jajanan yang cukup ramai di malam hari. Beberapa minimarket yang terletak tidak jauh dari hotel memberikan kemudahan jika terdesak dengan kebutuhan perjalanan.



Diantara jeda dua karnaval, menghabiskan malam dengan menikmati kuliner lokal atau mencoba bioskop lokal dapat menjadi pilihan. Dengan harga jauh lebih murah dibandingkan di kota besar lainnya, pilihan film yang diputar pun cukup beragam dan update. Terletak di antara jajaran ruko dan pedagang kaki lima di Jalan Gatot Subroto, lokasi Kusuma Theatre (New Star Cineplex) ini relatif susah ditemukan. Sembari menunggu jam pertunjukan dimulai, silahkan menikmati kuliner jalanan yang mengenyangkan dan ramah di kantong. Rujak Soto, yang sebenarnya berasal dari Banyuwangi, bisa ditemuka di sekitar alun - alun tak jauh dari bioskop ini.



Pada Grand Carnaval, fisik yang prima dan bekal yang cukup sangat diperlukan, terutama air mineral. Cuaca yang panas di tengah, panggung utama yang berupa aspal, dan penonton yang penuh sesak sangat menguras keringat. Bagi yang ingin nyaman dan  bisa leluasa menikmati pertunjukan silahkan membeli tiket seharga Rp. 150.000. Untuk fotografer, disediakan tempat khusus yang leluasa untuk mengambil angle terbaik. Para peragawan/wati pun akan dengan senang berpose dengan senyum standar maupun gaya menantang sesuai tema.. Sayang, sound system yang ada kurang keras dibanding riuh rendah dan tepuk tangan penonton. ..



-----------------------------

Meskipun masih memerlukan beberapa perbaikan, Jember Fashion Carnaval yang memasuki tahun ke 12  penyelenggaraannya ini telah mampu menjadi barometer dan panutan event carnaval di Indonesia. Beberapa pagelaran serupa mulai tumbuh dan bermunculan di berbagai kota, seperti Solo Batik Carnival dan Banyuwangi Ethno Carnaval. Ke depan, event semacam ini harus mendapatkan perhatian luas dari pihak terkait sehingga dapat disenergikan dengan agenda wisata yang lain sehingga lebih menarik minat wisatawan,. Tak lupa, perbaikan fasilitas umum dan kemudahan akomodasi serta transportasi perlu mendapatkan perhatian utama..
Read More »»»