Tuesday, March 29, 2011

LandMark...

Sebuah kewajiban bagi pelancong adalah meyatroni sesuatu yang menjadi icon suatu tempat baru yang dikunjunginya. Kurang afdol juga kalo kita tidak mengabadikan momen tersebut, sebagai bukti, kenangan tak ternilai dan tentu saja sekaligus menyalurkan kenarsisan bakat modeling. Landmark sebuah kota mampu menjadi daya tarik tersendiri akan pengembangan pariwisata, khususnya dalam promosi. Dengan kemampuan wahid seorang fotografer dan kameraman, obyek ini akan menghiasi berbagai tagline brosur dan pariwara audiovisual.

Beruntunglah bagi kawasan yang telah memiliki tata kota dengan sebuah landmark yang ciamik. Kemegahan masa lalu dengan sejarah, legenda dan mitos yang menyelubunginya akan makin menjadi daya tarik dan jual tersendiri. Mesir dengan Piramida Giza yang selalu dijaga oleh pengawal setia sang Pharaoh, Sphinx. Big apple yang mendapatkan Patung Liberty dari pemerintah Perancis sebagai hadiah atas kemerdekaan Paman Sam. Great Wall yang menjadi bukti kebesaran Kasiar Shih Huang Ti sebagai masa lalu Negeri Tirai Bambu. Prasasti yang lain tentunya masih banyak, baik yang terekam maupun tidak. Tak lupa, negeri kita punya peninggalan Dinasti Syailendra dalam rupa candi Budha terbesar di dunia. Setelah tak masuk dalam Keajaiban Dunia Baru, bagaimana kabar Borobudur ya ?

Akan tetapi, beberapa peninggalan sejarah semacam ini banyak yang terkubur alam, baik secara natural maupun seleksi alam. Kompleks kuil di Olympia dengan Parthenon yang masih mampu menujukkan keangkuhannya, bahkan hanya dengan sisa pilarnya. Satu yang membuat saya penasaran adalah peninggalan Raja Nebukadnezar, Taman Bergantung Babylonia. Berbagai ilustrasi dalam buku tetap tidak bisa membuat imaginasi saya mampu membayangkan wujudnya. Sungguh mati aku jadi penasaran.. He3x...

Sayangnya, tidak sedikit pula yang binasa oleh tangan dingin manusia melalui perang dan pertumpahan darah dengan berbagai dasar. Ideologi, kekuasaan, agama maupun hanya keisengan sang Raja yang menganggap perang sebagai permainan... Patung Budha terbesar di Bamiyan menjadi saksi kelabu pertumpahan darah tak berujung di Afghanistan. Coretan darah pula yang menyelimuti Angkor Wat yang kini mulai kembali memancarkan pesonanya kepada para pelancong.. Ah, mungkin masih ada jutaan bukti sejarah yang hancur oleh ulang kita.. Bodohnya.

Sekarang ini, banyak penguasa kota dan negara yang rela mengeluarkan dana puluhan milyar untuk membangun icon - icon baru. Bersaing dalam segala hal, menjadi yang tertinggi, termahal, dan hal - hal yang tak terbayangkan dulunya. Landmark sekarang tidak hanya berupa menara, patung, tetapi dapat pula berupa gedung, jembatan bahkan wahana liburan. Liat saja, Petronas yang sebenarnya sebuah kantor dapat menjadi simbol Kuala Lumpur yang identik dengan meanara kembarnya. Begitu pula Burj Al-Arab, sebuah hotel yang kini menjadi icon kemakmuran Ranah Asia Barat dan tak ayal memancing persaingan pembangunan bangunan-bangunan spektakuler di Timur Tengah..

Landmark di Indonesia ?

Sedikit banyak kita tentu pernah mendengar berbagai proyek ambisius pemerintah, entah itu didasari perkembangan pariwisata atau murni bisnis semata. Garuda Wisnu Kencana yang digadang akan menjadi patung tertinggi dan semakin memantabkan posisi Bali dalam ranah percaturan tourism dunia, sekarang masih belum mampu berdiri tegak. Menara Jakarta yang sudah beberapa pergantian Presiden pun, malah bernasih lebih tragis. Hilang di telan bumi..

Tapi, kita masih harus berempati dengan pemerintah. Setelah sekian lama, Suramadu mampu menaikkan "gengsi" kita dengan menjadi yang terpanjang di Asia Tenggara. Rencana pembangunan Gedung DPR yang baru ? No comment....

Satu yang perlu diingat, membangun lebih mudah daripada merawatnya.. Ha3x.. Terbukti, beberapa bangunan khas ini tampak tidak terawat. Kalaupun di rawat, pengelolaannya tidak tepat. Liat saja, Glodok yang mempunyai bangunan penuh nilai malah dibabat menjadi kawasan bisnis modern. Jembatan Merah yang kondisinya kini hanya seperti sebuah jalan biasa tanpa kenangan sejarah patriotiknya. Bahkan Keraton Jogja juga kurang terpancar kedigdayaan masa silamnya.

Perlu penanganan seperti apakah?? Hadoooowww..., itulah yang harus dipikirkan oleh mereka yang memang di bayar oleh rakyat untuk mengurusnya.. Kita ? Ya menikmatinya, eits..merawat dan mempromosikannya pastilah...


Keputusannya, jangan bilang pernah ke suatu tempat kalo belum pernah ke sesuatu itu. Landmark...
Read More »»»

Monday, March 28, 2011

No Boundaries...

Sedikit merubah gaya penulisan blog, saya mencoba keluar dari kebiasan saya yang selalu menulis segala sesuatu dengan bahasa yang kurang ringan.. Ha3x.. Saya tidak menyukai buku yang terlalu berat dalam penulisannya, tapi membaca beberapa postingan saya sebelumnya merupakan kontradiksi. Pemilihan kata saya seperti seorang yang sok serius, padahal teman saya sekalian pasti mengetahui saya ini orang seperti apa.. Maklum, gaya penulisan saya masih dalam taraf belajar dan berkembang..

Waktunya bersantai dalam menulis, saya akan mengenang sedikit untold story selama perjalanan pendek saya dalam traveling. Jangan protes dengan temanya, saat ini saya sedang tergila-gila dengan yang namanya traveling, backapcking, flashpacking atau apapun istilahnya.


RAME RASANYA !!!

Bagimana rasanya jalan-jalan ?? Pasti kayak permen nano-nano.. Senang, puas, kecewa dan capek tarasa campur aduk.. Satu lagi yang pasti, kantong bokek... Tapi pengalaman yang ada pasti lebih dari semua yang kita korbankan. Ha3x..

Kalo ditanya yang paling membosankan, jawaban pastinya adalah penerbangan delay. Menunggu, mau versi Rhoma maupun Ridho pun pasti terasa membosankan. Mau ke food court eh mahal... Mau ngobrol, iya kalo pergi sama teman. Baca buku dan denger musik sampe sudah eneg..

Rekor terlama keterlambatan sampai dengan sekarang adalah 2 jam. Lebih anehnya justru dipegang oleh maskapai Garuda yang baru saja masuk lantai bursa. Sebagai seorang yang selalu mencari tiket promo, saya sudah siap mental untuk terlambat. Tapi untuk yang satu ini saya tidak bisa tolerir. Bagaimana tidak bete, rencana kami makan malam di kawasan Jimbaran jadi buyar... Brrr..

Kalo urusan menyakitkan adalah ditipu. Saya yang menjunjung tinggi prinsip "kere" ini termasuk waspada kalo urusan beli-beli sesuatu di tempat wisata. Selain lebih mahal, akan banyak tiruan. Tapi kali ini adalah diitipu soal penginapan, di kawasan Senggigi tepatnya. Kamar yang katanya bisa di pake ber 4 dengan rate standart, ternyata dihargai per-kepala. Ah, kebodohan kami yang gak menyelesaikan administrasi dulu sebelum masuk.. Ini gunanya browsing dulu untuk mencari akomodasi.

Kalo menjengkelkan adalah kita sudah nyasar malah disasarin, tepatnya diputer-puterin. Kali ini urusan dengan sopir taxi di Penang. Ternyata sama saja, kalo mereka tau kita ini awam dan baru pertama kali pasti akan dibuat muter-muter. Apa mereka gak mikir yah, kalo suatu saat toh kita akan tahu rute sebenarnya dan kapok untuk naik taxi pembohong sejenis. Jangan ragu ambil peta dan berhenti sejenak untuk mempelajari peta. Kalau mau bertanya, silahkan pada petugas berkompeten atau penduduk lokal.. Jangan tanyakan pada rumput yang bergoyang.

MASIH DEMEN JALAN-JALAN ?

Pastinya... Sekelumit problem diatas hanya batu kerikil. Sakit sedikit tak akan membuat kita mundur kan.. Selain daya tarik suatu destinasi yang merupakan main course perjalanan, banyak aneka ragam dessert yang mempermanis ketika perjalanan berakhir.

Di suatu tempat yang agak terpencil di Banyuwangi (patokan saya adalah tidak adanya sinyal operator seluler sama sekali), dalam kondisi demam yang mendera, saya menemukan kehangatan ketika ibuk warung masih rela membuatkan mie goreng dan teh hangat buat kami yang kelaparan. Padahal saat ini sudah jam tutup.. Rasa pahit karena sakit tak mampu menghalangi nikmatnya mie instan yang serasa spagheti bolognaise.. (bukan spagheti instan buatan saya yang seringkali malah membuat sakit perut..).

Keramahan juga menghampiri saya ketika backpacker ke Negeri Singa. Berdua dengan teman, kami makan malam di Qiji dengan sistem beli satu porsi nasi, satu gelas minuman dan satu porsi gorengan. Satu porsi dengan maksut agar jangan terlalu kenyang dan bisa melanjutkan petualangan kuliner dan berhemat tentunya.. Ha3x... Saya yang sedang giat-giatnya praktek ngomong Inggris mengajak ngobrol seorang ibuk yang telah dengan baik memberikan meja bagi kami. Ujung cerita, sang ibuk memberikan satu botol air minum nya kepada kami.. Pasti kasihan melihat kami yang kucel kelihatan kurang minum... Thx Madam....

Kejadian semacam ini, saya alami lagi ketika Solo Flashpacking ke Derawan. Dengan baik hati, ada keluarga yang menawarkan nyemil sore bareng.. Ha3x.. Alhasil satu porsi PopMie mendarat di perut saya.. Ditambah lagi, kebaikan seorang kawan baru dari Makasar yang rela memotretkan saya sehingga sedikit kenarsisan dapat diabadikan..


Salah satu point dalam Sapta Pesona Wisata adalah RAMAH TAMAH. Penjabaran dari ramah tamah sendiri adalah Sikap masyarakat yang mencerminkan suasana akrab, terbuka dan menerima hingga wisatawan betah atas kunjungannya. Termasuk didalamnya juga adalah tidak mengharapkan sesuatu atas jasa telah yang diberikan.

Semakin kita sering mengunjungi tempat baru, dengan tujuan wisata tentunya, akan semakin kita merasakan indahnya keramahan orang. Keindahan dan pesona suatu destinasi tidak akan mampu membuat kita datang kembali apabila tidak ada keramahan dan kearifan lokal yang membungkusnya. Banyak tempat indah di dunia ini, hanya sedikit yang membuat kita “rela” datang dua kali. Dalam artian, kita benar benar datang kembali karena rindu tempat ini.. Hmmmm..

Alasan utama orang menghindari jalan-jalan adalah karena tidak mau keluar dari wilayah kenyamanan. Tak punya uang ?? Nabunggggg.... Mahal ?? *&%^#$@%^^& (pikir saja sendiri..)
Read More »»»

Friday, March 11, 2011

Penang Story : The Adventure Zone

Hari terakhir di Penang, saya ingin menikmati suasana santai. Setelah semalam tidur merasakan nikmatnya kasur King Coil yang dibanggakan dalam promosi Tune Hotels, saya ingin bangun siang. Rugi juga kalo saya yang membayar 2 hari hanya merasakan tidur sebentar saja (maklum, hari pertama kan prkatis tidak saya pake karena nebeng teman).

Peta Penang

Mendekati jam 10 pagi, saya sempat kecut karena ternyata tidak bisa nambah biaya untuk late check-out. Ah, saya bertekat untuk menjadi real backpacker dengan ransel besar di punggung. wuih, beban 6 kilo lebih akan saya bawa dalam perjalanan seharian. Dewi fortuna masih bersama saya. Hanya dengan 2 RM/ea, kita bisa menitipkan bawaan. Sekali lagi, salut kepada prinsip memberikan pelayanan optimal dengan hanya membayar segala sesuatu yang memang kita manfaatkan. Prinsip saling menguntungkan bagi penjual dan pembeli.. Tak lupa saya sempatkan untuk menikmati 30 menit free access internet dan hanya 1 RM untuk 3 menit refleksi kaki.

BUKIT BENDERA

Susah sekali menemukan posisi lokasi ini dalam peta dan brosur yang saya ambil di bandara, ditambah kondisi perut yang hanya sarapan manisan buah yang saya beli sehari sebelumnya di Chowrasta. Alamak, istilah yang digunakan ternyata berbeda, Penang Hill..

Dari terminal utama Komtar, saya memilih menggunakan Rapid Penang 204 karena sudah waiting time yang lebih singkat di terminal saat itu diantara beberapa rute kesana. So, siapa cepat dia dapat penumpang.. He3x..

Perjalanan 45 menit senilai 2,7 RM kali ini diwarnai sedikit hampir macet di beberapa titik jalan. Hanya antrian belokan saja sebenarnya, masih mampu ditasi oleh polisi Malaysia dengan seragam biru bak safari pejabat dengan bros silvernya.. Jempol karena mereka mengatur dengan senyum tetapi tetap tegas...

Jalan di Penang rata - rata memang kecil, dengan pohon besar yang berjejer di tepi jalan. Untuk rute Komtar - Bukit Bendera saya merasa jalurnya cukup berbelok-belok, agak lama tapi cukup efektif untuk memaksimalkan penumpang..

Di pemberhentian terakhir, Stesen Bukit Bendera, hanya ada 3 orang yang berniat ke Penang Trem, saya dan 2 wanita muda pengelana dari pimpinan negeri persemakmuran. Eng..ing..eng.. Dari mandor pekerja, kami mengetahui bahwa sedang ada perbaikan yang dimulai hampir 1 bulan lalu dan tak tahu kapan akan selesai. Kemungkinan ada perbaikan menyeluruh pada rel dan fasilitas pendukung, terlihat ada satu struktur bangunan baru di luar area trem.

Kecewa karena nekat. Saya sebenarnya sudah di beri info oleh teman bahwa sedang ada maintenance, sang driver rapid juga mengatakan hal serupa. Saya mengira masih bisa menikmati Bukit Bendera tanpa trem, ternyata oh ternyata..

Sedikit terobati, saya bersama dua England Traveler berjalan menuju Kek Lok Sie temple. Dari kejauhan terlihat aktivitas proyek pembangunan patung baru yang cukup besar dengan posisi strategis sehingga menjadi daya tarik dari kejauhan. Menuju temple ini harus dipersiapkan fisik prima, karena tangga nya cukup terjal dengan di kiri-kananya dijadikan pusat kerajinan. Pegel...

Secara umum, inilah temple terbaik dan paling layak dikunjungi di antara berbagai kuil di Penang. Kedepannya, patung baru akan semakin membuat daerah ini menjadi destinasi utama turis, baik untuk berdoa ataupun hanya sight seeing seperti saya. Pencinta fotografi juga wajib kesini, karena posisi kuil ini akan mampu memberikan ruang cukup luas untuk berkreasi.

BATU FERINGGI

Perlu perjuangan panjang untuk sampai ke pantai ini dari Bukit Bendera, semua diakibatkan karena rute Rapid Penang yang rumit dan susah di pahami. He3x.. Seperti di awal, perjalanan harus di awali dari Stesen Komtar Utama. Dengan 2,7 RM, bus 101 membutuhkan waktu 1 jam untuk mencapai Batu Feringgi. Karena bus wisata yang kutunggu tiada yang datang, saya memutuskan untuk mencari sarapan murah di mini market. Pilihan terpaksa, saya makan mie instan kemasan gelas karena sempat kecele dengan McD yang hanya menyediakan minuman.

Kawasan Batu Feringgi terbentang panjang, yang ditandai dengan deretan hotel berbintang di sepanjang jalan. Saya yang kebingungan menemukan pantai rakyat bebas, memutuskan untuk mampir ke kedai KFC untuk late 2nd breakfast atau early lunch, alhasil 11,2 RM melayang untuk sepaket menu.

Semua penumpang bus yang ingin ke kawasan pantai, diturunkan di dekat SPBU Petronas. Setelah 200 meter berjalan menyusuri berbagai kedai dan pangkalan taxi di depan deretan hotel, saya menemukan belokan menuju pantai yang terlihat bebas dari jamahan larangan, tentunya larangan bagi saya yang bukan tamu berbintang.. :p

Pasir di pantai ini cukup bersih, dengan beberapa bule yang menikmati sinar matahari. Aktivitas lainnya adalah watersport, tapi entah mengapa sore itu sepi sekali.. Mungkin kebanyakan kapasitas adalah di kawasan private beach.. Ah, di Derawan, Lombok & Bali saya bisa lebih menikmati suasana pantai yang bebas. Kawasan ini mungkin tidak ramah bagi saya, tapi tentu tidak begitu bagi mereka yang ramai sekali datang disana untuk memilih puluhan resort mewah yang terjajar di tepi jalan.

Dengan pertimbangan keberangkatan pesawat dan jarak kembali ke hotel dan langsung ke bandara, saya tak sampai 1 jam menikmati pantai ini. Dalam perjalanan kembali, saya sempatkan memotret deretan pemandangan unik. Entah kapan lagi saya akan kesana, tapi saya ingin kembali lagi kesana.

Saya masih punya hutang untuk ngopi di Starbuck samping hotel, mencoba white coffee dan menyeberangi Penang Bridge.. Alasan tepat untuk merencanakan agenda untuk kembali ke sana..

------------------------------------------------------------------------------------

Persiapan traveling adalah hal yang paling mengasyikkan, dan sebaliknya kembali pulang adalah sesuatu yang paling menyakitkan. Meski harus diakui, saya kangen rumah dinas dengan genteng bocornya, suasana kerja dan kehidupan sehari-hari saya. Tapi berat hati ini meninggalkan keseruan aktivitas eksplorasi tempat baru. Mulai dari menemukan letak, mencari transportasi, bertanya karena linglung arah, menyadari kalau tersesat dan kelegaan setelah menemukannya.

Salam Jalan...

The End of Penang Story

Ucapan terima kasih untuk teman baru saya yang rela menunggu dan kegerimisan saat mengantar saya... Saya tunggu cerita Phuket-nya yang lengkap.. Thanks untuk tante Bintang yang ngasih kabar perkembangan kota Berhias Iman.. Terima kasih besar untuk teman-teman yang sabar karena saya tidak bisa membawakan oleh-oleh.. Ha3x... Sayang saya untuk yang sempat ngambek karena saya ijin mendadak dan kenakalan saya dalam perjalanan ini.. :p Maaf saya untuk simbok yang tak sadar terkena tarif roaming karena si bandel ini tidak ijin..
Read More »»»