
Diktat penunjang kuliah, buku motivasi, biografi, novel misteri, komik, kisah roman, dan tentunya yang paling banyak adalah mengenai traveling. Baik berupa majalah, panduan perjalanan, novel perjalanan dan bahkan travelogi bergambar.. Cukup menguras uang jajan.. He3x..
Fenomena menjamurnya profesi travel writer tak kalah dengan menjamurnya boyband dan girlband alay. Tentu saja, kondisi nya bisa dikatakan kongruen. Beberapa dibekali dengan kemampuan menulis yang mantab jaya, ada yang sesuai standar dan tentunya tak sedikit yang garing abiess... Gaya dan tampilannya tak kalah ramai, mulai dari atraktif, lumayan, rata-rata, dan ada yang ancur lebur.. Ha3x... Bukan bermaksud menjudge, tapi memang beberapa buku terkesan dipaksakan dan tidak digarap dan dikemas dengan menarik...

Beberapa buku membuat saya tergelitik, ingin mengenal jauh tentang setting yang diceritakan. Ha3x.. Ujung-ujungnya membuat saya semakin sakau untuk jalan-jalan lagi. Eits, saya punya alasan mengapa saya tergoda...
Selimut Debu & Garis Batas


Betapa dulunya, jauh sebelum dicaplok USSR, dikawasan Amu Darya ini pernah ada pusat peradaban besar, Samarkand. Dan sayangnya, sekali lagi, kebodohan manusia lah yang merusaknya dan hanya meninggalkan sedikit puing-puing bukti kejayaan kala itu.... Grrrrrrr...
Pengalaman masa lalunya, membuat penulis mampu merasakan bagaimana rasanya menjadi orang terpinggirkan di tengah negaranya dan sebaliknya tetap menjadi orang lain ditengah bangsanya. Ah...., betapa bersyukurnya kita yang berada di tengah masyarakat yang satu bangsa, satu negara dan satu budaya. Minimal, kita beruntung hidup di tengah masyarakat yang saling menghargai perbedaan dan karekteristik masing-masing bagian didalamnya. Toh, perbedaan itulah yang membuat pelangi itu indah...
Zona Aman Gorazde

Lebih mangerikan lagi kondisi Gorazde, salah satu zona aman terakhir Muslim Bosnia yang berada di tengah wilayah kekuasaan Serbia. Terpisah dari Sarajevo, ibukota negara, dan terperangkap dalam ketidakjelasan dan kurangnya perhatian terhadap wilayah ini. Sedikit banyak kita pasti mampu membayangkan dan merasakan penderitaan mereka..

Meskipun, menurut saya, permasalahan seperti ini pasti tak lepas dari berbagai konspirasi yang melibatkan berbagai kepentingan dan kekuatan besar di belakangnya. Ah, rakyat kecil seperti kita dan mereka selalu dijadikan alasan dan alat saja oleh para penguasa lalim..
---------------------------------------------------------------------------
Saya tidak mau Indonesia ini akan kehilangan identitas sebagai bangsa. Bangsa kita harus berkaca. Bhinekka Tunggal Ika ini harus benar-benar di terapkan secara adil dan merata. Kita semua, terutama saya, sudah muak dengan berbagai alasan yang membawa aneka atribut untuk memaksakan suatu persamaan di tengah indahnya keberagaman dan perbedaan. Kita tak butuh persamaan, kita hanya perlu lebih bijaksana untuk menyikapinya..
Saya dan kita semua harus bersyukur dan senantiasa berdoa, bahwa bangsa Indonesia tercinta mampu dan tetap menjaga keindahan ditengah berjuta perbedaan.. Kita harus yakin bahwa bangsa ini akan berubah menjadi lebih baik, bangsa yang tidak hanya maju dan disegani, tetapi menjadi bangsa besar yang beradap dan menjujung tinggi kemanusiaan. Sungguh indah..