Saturday, December 31, 2011

Banyuwangi : Fly on Cheap/Free

Salah satu cara untuk menekan biaya jalan - jalan adalah menekan biaya transportasi, terutama penerbangan. Cara yang jamak dilakukan adalah berburu tiket promo. Sayangnya, ketika saya sudah merasa berhasil meraih tiket murah, pasti ada teman yang pernah atau sedang dapat hasil yang lebih murah.. Hadow, susah memang berebut program kemurahan maskapai ini. Bagaimana gak ? Setiap promo mesti dimulai tengah malam, begitu di mulai, pasti website langsung overload.. Brrrr... Tapi, setidaknya hal ini menjadi bukti bahwa banyak orang semacam saya... Promo ticket is very high competitive..
Rata Penuh
Makanya, begitu tahu seorang teman bisa dapat tiket gratis hanya bermodal twiter, saya langsung bersiap untuk berjibaku memperebutkan tiket gratis berikutnya. Eureka, akhirnya saya dapat. Tapi memang gak mulus banget, gangguan server membuat saya sebagai pemenang telat dihubungi. Jadwal yang sudah saya susun harus disesuaikan... mundur....

Tambah lagi, jadwal kuliah yang di ganti seenaknya oleh pihak akademik membuat rute tujuan harus dibelokkan.. Itenerary ke Pulau Dewata di tarik lebih dekat menjadi Banyuwangi. Ha3x,, Niat saya awalnya hanya ingin mencoba sensasi naik pesawat selain Boeing dan Airbus , yup MA60.. Kan kata pelancong handal "traveling is not about the destination, but the journey". Mari saya buktikan...

Prolog

Diawali kebut-kebutan dari kampus menuju Juanda menggunakan motor dengan skala bensin sudah menunjuk huruf E besar.. Waktu yang hanya 40 menit dengan kondisi jalur padat menengah memaksa saya hanya berdoa semoga Vario ini tidak mogok karena kehabisan bensin. Yang penting, jangan sampai ketinggalan pesawat dulu, urusan bensin untuk pulang belakangan...

Alhamdulillah yah, ketika menjejakkan kaki ke pintu keberangkatan, nama saya sudah dipanggil untuk segera ke ruang tunggu. Aneh, saya kan belum check in,, kok udah dipanggil,. Ternyata tiket gratis yang diberikan adalah dengan keterangan sebagai staf.. Ha3x... Benar - benar syukur kuadrat, padahal saat itu sudah tinggal 15 menit untuk terbang.. Kapokkkk,....

So, ada apa saja di Banyuwangi ??

Blimbingsari

Bandara ini memberi kesan khusus bagi saya. Sampai saat ini, inilah bandara terkecil yang pernah saya singgahi (termurah juga, airport tax nya hanya Rp. 8000). Dalam seminggu, penerbangan komersial hanya ada 4 kali dengan rute Sby - Bwi dan 4 kali sebaliknya.

Hmmm, pertugasnya nganggur duonk ? Yup, jadwal tetap hanya itu.. Tetapi, bandara ini juga melayani pendaratan pesawat - pesawat kecil untuk latihan dari TNI.. Hasil ngobrol dengan salah satu petugasnya yang masih PNS baru, penumpang komersial hampir selalu itu - itu saja, sampai dia hafal... Eits, jangan sepelekan bandara ini. Suatu ketika, ketika potensi pariwisata yang menjanjikan di kawasan timur Jawa ini berkembang, saya yakin akan banyak penerbangan kesini..

So, jangan berharap soal fasilitas. Landasan cukup pendek, ruang bandara mirip kantor kelurahan, waiting room sekelas ruang tunggu puskesmas, toilet hanya ada satu (unisex) di luar bandara, penjual hanya ada satu dan mushola yang tidak terawat. Tranportasi ke kota (taxi, travel, ojek) hanya ada selama 1 jam, jam 1 sampai jam 2 saat penumpang datang dari Surabaya. Setelah pesawat balik ke Juanda, bandara dan semuanya tutup, sepi...... (Pengalaman pribadi, menyaksikan bandara ditutup dan ngobrol ngalur ngidul dengan petugas yang sudah gak ada kerjaan selain ngawasi tukang yang lagi renovasi bandara... Ha3x..)


Ketapang, Boom, Taman Suruh

Keterbatasan waktu sempat membuat saya bingung. Tapi, satu lagi rejeki bagi saya dalam perjalanan kali ini, adanya teman yang siap mengantar dan menjadi guide dadakan.. Ditambah, bersedia meminjami motornya.. Ha3x..

Dalam dua hari di sana, saya sempat mengunjungi pantai Blimbingsari, Boom, Pelabuhan Ketapang, Alun- Alun, Stasiun Banyuwangi, Pabrik Kertas, dan Taman Suruh.

Banyuwangi memang tak memiliki bangunan yang menjadi landmark khusus untuk dikunjungi. Kawasan ini telah memiliki alam dan budaya lokal yang potensial, jadi tidak perlu ada landmark buatan yang musti dibangun..

Alas Purwo, Baluran, Kawah Ijen, Plengkung/G-Land, atau Muncar telah terkenal keindahannya, bahkan oleh para surfer dan hiker dunia. Sayang, letaknya yang terlalu jauh dan memerlukan banyak waktu membuat saya belum sempat kesana. Satu lagi langkah nyata yang dilakukan oleh pemerintah adalah diadakannya Banyuwangi Etnic Carnival yang pertama pada Oktober lalu. So, memang ada alasan bagi saya untuk kembali,...

Soto Rujak, Terong Welut, Duren Nyai

Salah satu kenikmatan traveling yang masih bisa ditolerir dengan waktu yang sempit adalah wisata kuliner. Satu kewajiban ketika mengunjungi suatu tempat baru adalah mencicipi kulinernya. Meskipun Kuliner di kota ini masih satu rumpun dengan gaya Jawa Timur-nya, namun detail rasa, bahan dan gaya cukup berbeda... Hmmm...

Dari awal, saya mengincar dua makanan khas, Soto Rujak dan Nasi Tempong.. Meski hanya keturutan Soto Rujak, saya dapat bonus menu ikan bakar yang khas dengan sayur daun kelor dan sayur leroban nya. Menu terakhir ini adalah lalapan matang yang terdiri dari 10 jenis sayur, yang menarik adalah terong mini (terong welutnya)... Mantebbb...

Tawaran lain yang menggiurkan adalah mecoba Duren Merah yang disebut Duren Nyai (baru saja kemaren lihat di tipi).. Sayang, meski kami mendatangi daerah penghasilnya, kedatangan yang mendadak di luar musimnya membuat kami tidak kesampaian mencoba si Nyai.. Ada alasan tambahan bahwa saya harus dan akan kesana lagi.. Ha3x..

Epilog

Senja di Pelabujan Ketapang membawa ingatan saya kembali ketika study tour SMA dulu.. Semangat, kenangan dan cerita klasik yang akan selalu saya kenang. Kini, saya mencoba meresapinya kembali....

Note : Special thanks to Agan Ende atas informasi twit-nya, Merpati untuk tiket gratisnya, Andry yang rela menekan ketakutannya untuk nyetir motor karena harus menjemput saya, Mas Yoni yang capek mengantar keliling malam-malam.
Read More »»»

Tuesday, December 13, 2011

Saya Jadi Pejabat

Sekarang saya adalah seorang pejabat.. Memang hanya kelas teri, tapi bolehlah saya sombong.. Yup, sekarang saya resmi menjadi Kepala Seksi, setelah sekian lama (3 tahun sih) hanya menjadi staf yang menerima tugas by order. Walaupun secara struktur saya tidak naik jabatan, hanya mutasi ke posisi struktural. Malahan, jabatan sekarang lebih tidak elit, hanya tertulis Seksi Administrasi Teknik. Bahkan bisa dibilang saya rugi, job grade posisi sekarang malah turun dari posisi saya sebelumnya sebagai seorang Engineer. But, d'ont look the book from it's cover, So don't judge the position from the name... Ha3x..

Kenapa sangat ingin menjadi seorang pejabat ?

Hmmm.. Awalnya karena saya merasa stuck dengan posisi staffing. Uraian tugas saja umum, wewenang nihil, aktualisasi diri jauh lah.. Bagaimana bisa belajar untuk menjadi pemimpin yang baik kalo wewenang saja tidak punya. Bukan apa - apa. Menurut saya, kesulitan menjadi pemimpin adalah karena kita punya wewenang, punya kuasa. Sesuatu bermata dua yang bisa membawa kebaikan atau menjadi awal kehancuran kita.

Selain itu, Process Engineer di tempat saya boleh dibilang kurang menantang. Satu tahun dengan belajar serius dan tidak direcoki bidang lain pasti sudah ahli. (saya butuh waktu lebih lama karena tidak serius.. Ha3x..). Orang - orang bisa menghibur diri dengan mengatakan bisa belajar teknik yang lain, mekanik, listrik atau bahkan sipil. Bagi saya ? Maaf saya tidak tertarik.. Memang, balajar apapun pasti akan berguna, tetapi saat ini saya memilih untuk belajar yang lain.. Ha3.. Saya lebih ingin menjadi pejabat..

Apa Enaknya jadi pejabat ?

Banyak.. Silahkan lihat noh pejabat publik, umur 30 an tahun, rekening gendut dengan milyaran Rupiah dan Dollar. Makin tinggi jabatan, makin tinggi angin godaannya. Seperti hari ini, saya mendapat sebuah amplop yang cukup tebal. (bahkan dalam masa transisi) Ha3x.. Sudah tahu lah apa isinya... Sempat terlintas tahun baru-an di Universal Studio atau menikmati Danau Kakaban kembali... Sayang, kesombongan saya berkata tidak.. Sang harga diri masih belum kalah oleh itu semua.. So, lupakan Singapore dan Derawan... Ha3x...

Pengalaman lah yang saya harapkan dari sebuah jabatan. Dulu saja, waktu masih jadi pelajar, mahasiswa atau pendatang baru di kantor, kita selalu mencemooh dan menganggap salah apa yang dilakukan pimpinan kita.. Nah, silahkan dibuktikan ketika anda menjabat.. Kita akan menjadi orang yang lebih bijak dan matang..

Visi Misi Setelah Menjabat ??

Pastinya saya sudah punya segudang rencana. Ingin lebih baik dari pejabat sebelumnya dan naik jabatan lagi pastilah, tapi ingin menjadi orang yang matang dan tetap idealis lebih penting bagi saya. Biar orang bilang terlalu berlebihan, kalo gak muluk yah rugi donk.. Kata orang, idelaisme akan turun seiring berjalannya waktu. Bisa benar, tapi bisa juga itu hanya pemakluman yang menyesatkan.. Orang makin "dewasa" pasti, tetap idelais juga bisa. Tapi, kita juga perlu menjadi realistis. Lihat kemampuan dan pengorbanan yang siap kita lakukan. Maka, marilah bekerja dengan baik sesuai dengan pengaruh dan kemampuan kita...

Salam Pejabat

(curahan hati pejabat geje yang kebelet traveling, ditulis jam 10 malem setelah nungguin perbaikan kabel Tipi Kabel dengan kondisi kelaparan setelah karaoke)
Read More »»»

Friday, November 18, 2011

Thai Cuisine : Green Curry

Terpengaruh oleh tayangan Australia's Master Chef 2 dan Hell's Kitchen, keinginan untuk wisata kuliner di Thailand semakin mantab. Saat tema international dish, Thai food selalu menjadi bagian. Hal ini menjadi bukti bahwa makanan di sana memiliki ciri khas yang sudah diakui dan memang layak untuk dicoba.. Hidangan ini sudah disejajarkan dengan icon makanan dari negara lain yang sudah menjajah lidah kita. Italia, Perancis, Yunani, Mexico, India, China, Jepang, dan Inggris..

Bicara Thai food, kebanyakan akan menyebut Tom Yam. Saya mengenal makanan Thailand ini sejak kuliah. Rasanya yang segar dan cendurung asam cukup unik dan bercita rasa beda dengan makanan yang biasa saya santap. Ah, tapi lidah saya sudah sering mencobanya, dengan tampilan, resep dan penyajian yang berbeda.. Untuk kali ini, saya ingin mengincar menu spesial lainnya untuk di coba.

Green Curry Ver. Soup

Entah mengapa sejak awal saya tertarik dan penasaran dengan Green Curry. Sepengetahuan saya (dari Master Chef OZ juga), makanan lain yang ikonik adalah Thai Curry. Pada awalnya, sang primadona klasik adalah Red Curry. Kari ini tidak seberat Indian Curry yang mengenyangkan, malah cenderung seperti Tom Yam yang bercitarasa segar. Namun, kari ini masih bercitarasa pedas....

Pada perkembangannya, Green Curry muncul sebagai makanan favorit baru yang lebih sesuai dengan lidah para bule yang kurang bisa menerima makanan pedas, dengan tetap menjaga ciri khas kari yang kaya rempah dan terasa hangat di mulut dan perut.. Hmmmm, kreatif...

Cita - cita tercapai, saya menemukan kedai makanan Thailand di MBK yang dijamin Halal 100%. Alhamdulillah, karena mencari makanan tradisional yang halal di Bangkok sudah seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Yana Restaurant berada di food court lantai 5 MBK, silahkan naik dari Tokyu di lantai 4, tempat ini terletak di dekat eskalator.. Surprise tambahan ketika mbak pramusajinya bisa bahasa Indonesia, eh melayu ding.. Besar dugaan saya, mbak ini adalah warga muslim Patani dari wilayah selatan. Kok tahu ? ya jelaslah, wong pake jilbab.. He3x..

Mengenai rasa? Amboiii sedapnyooo... Bumbu dan santannya benar benar pas untuk menyatukan rasa aneka sayuran segar dan daging ayamnya.. Dengan harga 150 Baht, seporsi kari hijau yang disajikan bersama nasi putih tak ayal mampu memberikan pengalaman makan yang maknyuss. Ha3x.. Mantab nian...

Green Curry Ver. Sauce

Sudah menjadi tren di berbagai negara, franchise fast food ternama seringkali menyediakan menu yang dikombinasikan dengan keunikan lokal. Untuk di Thailand, salah satunya adalah konsep green curry ini. Meski sedikit beda versi, dimana konsep Green Curry ini hanya digunakan sebagai kuah aka saos, saya masih mampu merasakan sentuhan lokalnya.

Dengan merogoh kocek 59 Bhat, seporsi chicken green curry terhidang di KFC Dusit Zoo.. Sekali lagi, entah karena lapar dan kecapekan, hidangan cepat saji ini tetap layak untuk direkomendasikan jika suatu saat harus masuk ke restoran cepat saji. Mengingat, teman saya harus kecewa dengan Curry Fried Rice yang kurang sesuai untuk lidah dikala sarapan..

Green Curry Ver. Fried Rice

Sedikit bahan perbandingan, pengalaman menyantap hidangan ini di salah satu coffee shop di SUTOS yang menyajikan Thai Cuisine. Ketika melihat daftar menu di kafe ini, saya baru sadar jika pernah menghajar makanan satu ini beberapa bulan lalu, dan masih segar dalam ingatan jika kami memberi label "sayur bobor" pada menu ini.. Jauh benar dengan yang saya santap di Bangkok sono..

Dan, baru kemaren malam (23 Nov) di kafe tersebut, saya nekat mencoba versi lain dari kari ini, Green Curry Fied Rice with Tuna seharga 35,000 Rupiah. Surprising, perwujudan kali ini sesuai untuk selera saya. Bumbu karinya cukup nendang, meski gak terlalu berat seperti kesukaan saya. Terong hijaunya cukup renyah, meski sedikit berminyak. Wajar, karena digoreng bersama nasi.. Yang kurang adalah butiran kecil hijau biji polong. Dan satu lagi,
tunanya kurang banyakkkk... Ha3x... Menurut saya, tempat ini cukup memadai untuk mengobati rindu dengan Thai Dish satu ini..

Eits, tapi saya penasaran. Bagaimana berbagai variasi lain menu ini di negara asalnya sana, hmmm patut dimasukkan dalam itenary berikutnya..

Bon Appetit...

Read More »»»

Tuesday, November 08, 2011

Sawasdee Bangkok : Khaosan - Siam

Perjalanan memang tak selamanya mulus, terkadang berliku-liku. Ungkapan sederhana yang pas untuk menggambarkan traveling ke Bangkok dan Kuala Lumpur di awal November ini. Tiket sudah di issued sejak Desember 2010 demi mendapatkan harga promo... Namun, dalam masa penantian itu, banyak kondisi dan situasi berubah...Cobaan mulai datang ketika saya terpaksa mengakhiri kisah manis saya dengan seseorang.. Saya tidak akan bahas (ya iyalah, sudah cukup 2 tulisan mengenai ini..). Halangan terakhir adalah kondisi banjir Thailand yang makin memburuk dan bahkan sudah masuk ke kawasan ibukota yang sebelumnya disterilkan. Hiks..hiks..

Nekad kuadrat.. Meski 2 hari menjelang keberangkatan airline membuka alternatif pilihan untuk reschedule atau diganti travel credit, saya tetap meluncur ke TKP. Senekat - nekatnya tupai, saya tetap prepare segala kondisi darurat. Bawa baht lebih banyak, beli travel safety box dan memilah milah rute alternatif jika memang mesti ngungsi... Alhasil, backpack saya makin berat karena tambahan life vest, peluit, kompas, senter, emergency blanket dan ponco.. Ha3x..


Kalo ada yang tanya, nyesel gak nekat kesana ? Jawaban pastinya "Tentu Tidak". Kenapa ? Ini salah satu alasannya..

KHAOSAN ROAD


Jalan yang tidak terlalu panjang ini merupakan pusat backpacker, alias turis ngirit macam saya ini. Siang hari, area ini sepi tanpa kehidupan. Pemandangan hanya menampakkan gerobak pedagang disisi kanan kiri jalan, tertutup terpal plastik dan berbaris rapi di depan hotel ataupun mini market, praktis tak ada trotoar. Tapi, suasana malam hari berubah 720 derajat. Denyut aktivitas berjalan seiring hiruk pikuk pedagang makanan, musik top40, kios souvenir, tempat refleksi, bahkan para penjaja cinta yang memamerkan diri. Sebuah atmosfer yang tentu saja sangat disukai partygoers.. Bau alkohol, makanan yang digoreng, dibakar bercampur dengan bau got, keringat dan pesing... Hadowww... Smell Good.

Kami berempat terpaksa mondar mandir mencari makanan halal dan sebotol air mineral. Banjir membuat stok air mineral di mini dan supermarket ludes, dan pedagang kaki lima terbukti ampuh mengelola supply chain nya.. Ironisnya, stok bir dan sejenisnya tetap melimpah ruah... ckckckc...

Trus, apa menariknya ?? Kesemerawutan ini menunjukkan potret tersendiri seperti refleksi kecil kehidupan kita. Penuh godaan, tipuan, kebingungan dan akhirnya kita harus memutuskan apa yang kita ingingkan dalam perjalanan itu.

Tentu saja, saya dan teman - teman adalah korban godaan. Dari rencana awal hanya mencari air mineral dan makan, kami terlena mencoba berbagai jajanan dan penganan khas yang tersedia.. (sebenarnya gak beda jauh sama jajanan di kampung halaman, hanya tampilannya yang berbeda). Yes, saya berhasil menggagalkan diet teman-teman.. Ha3x.. Plus, ada yang tergoda membeli souvenir.. Ah, kehidupan memang selalu penuh kejutan dan pilihan..

Transportasi dari dan ke kawasan ini terbilang rumit bagi pelancong awam. Dari berbagai petunjuk, saya sebagai tour leader sudah memasukkan Airport Bus AE2 sebagai alternatif. Apa daya, sudah sebulan lebih moda transportasi ini tidak beroperasi.. So, taxi adalah pilihan bijak yang tidak bersahabat, alhasil 450 Baht melayang, dari tarif bus yang hanya 15 Baht/orang.. (P.S : saya tidak tahu alasan tidak beroperasinya bus bandara, apakah karena banjir atau diwafatkan selamanya.. Ha3x..)

Sebaliknya, di hari kedua perjalanan, kami yang berbekal kompas mungil dan peta gratis kawasan ini sempat repot mencari letak Phra Atit Pier untuk naik water taxi menuju Grand Palace. Salah arah tepatnya, Ha3x... Akhirnya dengan terpaksa kami berjalan kaki menuju lokasi pertama.. (Suatu kesalahan yang indah, karena Phra Atit juga ditutup karena boat tidak beroperasi..). Ha3x..

SIAM SQUARE

Kawasan sentra perdagangan (alias mall menurut saya) semacam ini pasti ada di semua kota besar, bahkan kota menengah dan kecil. Selain konsep banyak mall di satu kawasan, apa istimewanya ? Toh sering juga saya menginjakkan kaki di TP yang hampir sama.



Dalam itenary saya memasukkan destinasi ini dengan berbagai pertimbangan. Dimana lagi coba bisa melihat kehidupan dan gaya masayarakat perkotaannya selain di mall. Minimal untuk keseharian anak muda seperti saya.. Ha3x.. Kalo ingin melihat kehidupan tradisionalnya tentu mall bukan tempatnya. Minimal, kawasan ini menunjukkan tren fashion kawula muda Bangkok dan siapa tahu nemu barang bagus yang lagi diskon.. Hmmm tetep... Incaran awal saya adalah Siam Discovery, Siam Paragon, MBK, dan Platinum.

Siam Discovery (SD) pastinya untuk mengunjungi Madame Tussauds di lantai 6 nya.. Tak perlu repot harus ke London atau Hongkong sana.. Pengaturan, keramahan, dan kemasan museum ini bisa diacungi jempol.. Bagi saya yang terakhir ke museum adalah Museum Purbakala Trinil jaman SMA dulu, tempat ini layak dikunjungi untuk entertain. Meski jujur, 800 baht terasa mahal untuk berfoto bersama figure tokoh ternama KW super ini.. Sedikit di luar ekspektasi masa kecil saya, 89 patung lilin disini kurang bikin saya geregetan.. Tapi, kapan lagi bisa narsis sama Lady Gaga dan TaTa Young.. Hajar...
Siam Paragon (SP) lain lagi tujuannya. Menurut saya, inilah icon mall anak muda di Bangkok. Dibandingkan dengan SD yang diisi branded tenant, penampilan SP lebih cocok bagi saya, upper middle lah.. Meski, tujuan utama saya hanya gound floor alias food court-nya yang luas dan penuh makanan menggoda... Berhubung sudah lapar dan lunch time sudah lewat, saya tidak sempat mengeksplor semua stand melainkan angsung menuju pujasera-nya yang lebih ramah kantong.. Begitu melihat salah satu stand menampilan logo Halal, saya segera menentukan pesanan... Masalahnya, pembayaran di sini ternyata harus membeli voucher dulu.. Maklum turis... Ha3x..


Mahboonkrong (MBK) konon adalah mall terbesar dengan 2,000 lebih gerai. Bagi saya, tempat ini adalah alternatif murah untuk mencari souvenir selain Chatuchak yang hanya ada di akhir pekan. Penampilan dan isinya adalah ITC yang di upgrade satu tingkat. Dagangan beragam, padat, luas, membingungkan tapi tetap nyaman dengan pendingin yang bekerja sempurna.. Asyiknya lagi, harga disini bersifat nego alias tawar menawar.. Saya berhasil mendapatkan souvenir dengan setengah harga yang ditawarkan, meski saya jamin Simbok mampu mendapatkan harga sepertiganya.. Ha3x..

Platinum Shopping Mall pastinya merupakan surga bagi shopaholic yang gila mode. Mall yang spesialisasinya di fashion clothes dan accessories ini memang menyediakan berbagai merk branded, meski fabrikasi pastinya di China.. tidak ada yang spesial, karena memang saya tidak sempat kesana dengan alasan tenaga dan biaya.. Ha3x.. Tapi kata teman dan berbagai sumber, tempat ini wajib dikunjungi jika ingin mencari gaya busana yang berbeda dengan di negeri kita... Ah, saya toh sudah puas dengan kaos oblong... :p


Catatan : untuk menuju Siam Square (SD, SP dan MBK) silahkan menunggu bus 47 di sebarang jalan samping Grand Palace hanya dengan 8 Baht per orang. Sedangkan Platinum terpisah dan saya tidak tahu bagaimana menuju kesana.. Skybridge dari SD ke SP terletak di lantai 4, sedangkan ke MBK silahkan lewat jembatan penyebrangan... Surga belanja lain yang saya lewatkan dan akan saya kunjungi adalah Chatuchak dan Pratunam Market..

Pusat perbelanjaan, baik mall, pasar maupun sejenisnya memang menawarkan sesuatu yang layak dikunjungi. Hopkunka Bangkok..

Next : Culture & Cuisine

Read More »»»

Friday, October 21, 2011

Travel Alarm (2nd Edition)

Tanpa disadari, dalam kurun beberapa bulan terakhir ini, saya membeli begitu banyak buku dan majalah (P.S : selain booking terlalu banyak penerbangan murah... Ho3x..). Saya memang sejak dahulu gemar belanja buku, makin parah semenjak dibisiki provokasi dari Tante Aquarius untuk meluncur ke situs toko buku online... Alhasil, beragam jenis buku tertata rapi di rak (meski beberapa berserakan di kasur dan meja tivi.. Ha3x..

Diktat penunjang kuliah, buku motivasi, biografi, novel misteri, komik, kisah roman, dan tentunya yang paling banyak adalah mengenai traveling. Baik berupa majalah, panduan perjalanan, novel perjalanan dan bahkan travelogi bergambar.. Cukup menguras uang jajan.. He3x..

Fenomena menjamurnya profesi travel writer tak kalah dengan menjamurnya boyband dan girlband alay. Tentu saja, kondisi nya bisa dikatakan kongruen. Beberapa dibekali dengan kemampuan menulis yang mantab jaya, ada yang sesuai standar dan tentunya tak sedikit yang garing abiess... Gaya dan tampilannya tak kalah ramai, mulai dari atraktif, lumayan, rata-rata, dan ada yang ancur lebur.. Ha3x... Bukan bermaksud menjudge, tapi memang beberapa buku terkesan dipaksakan dan tidak digarap dan dikemas dengan menarik...


Beberapa buku membuat saya tergelitik, ingin mengenal jauh tentang setting yang diceritakan. Ha3x.. Ujung-ujungnya membuat saya semakin sakau untuk jalan-jalan lagi. Eits, saya punya alasan mengapa saya tergoda...

Selimut Debu & Garis Batas

Dua buah novel perjalanan karangan mas Agustinus Wibowo ini memberikan nuansa traveling yang berbeda. Adrenalin menembus selimut debu di tengah perang berkepanjangan cukup terdefinisikan dengan baik dalam penggalan kisahnya menjelajah ranah Afganistan. Ah, ambisi dan ego manusialah yang menjadikan bumi ini penuh dengan debu. Apapun alasannya, peprangan hanyalah wujud kebusukan dari hati manusia yang disembunyikan dalam selimut agama, suku, ras, golongan maupun teorisme.

Sebaliknya, Garis batas tercipta sebagai pengejawantahan semua perbedaan itu. Kesenjangan yang tergambar jelas di perbatasan Asia Tengah mampu diceritakan dengan pengalaman betapa sulitnya mendapatkan visa untuk melintasi perbatasan Tajikistan dan Kirgiztan. Permasalahan klasik tentang negara-negara baru hasil dari pecahan penguasa blok Timur dimuat dalam narasi tentang Turkmenistan, Kazahktan dan Uzbekitan.

Betapa dulunya, jauh sebelum dicaplok USSR, dikawasan Amu Darya ini pernah ada pusat peradaban besar, Samarkand. Dan sayangnya, sekali lagi, kebodohan manusia lah yang merusaknya dan hanya meninggalkan sedikit puing-puing bukti kejayaan kala itu.... Grrrrrrr...

Pengalaman masa lalunya, membuat penulis mampu merasakan bagaimana rasanya menjadi orang terpinggirkan di tengah negaranya dan sebaliknya tetap menjadi orang lain ditengah bangsanya. Ah...., betapa bersyukurnya kita yang berada di tengah masyarakat yang satu bangsa, satu negara dan satu budaya. Minimal, kita beruntung hidup di tengah masyarakat yang saling menghargai perbedaan dan karekteristik masing-masing bagian didalamnya. Toh, perbedaan itulah yang membuat pelangi itu indah...


Zona Aman Gorazde

Menyelami buku ini seperti membawa saya kembali menyingkap fakta dan sayatan lama di kawasan bekas Yugoslavia. Bagaimana sebuah konflik multidimensi yang berakar pada perbedaan ras telah memecah belah persahabatan, kekeluargaan dan terlebih telah menafikan hilangnya makna kemanusiaan. Dua keluarga yang karena batas tipis perbedaan, menjadi saling curiga dan terpaksa memanggul senjata.. Ah..

Lebih mangerikan lagi kondisi Gorazde, salah satu zona aman terakhir Muslim Bosnia yang berada di tengah wilayah kekuasaan Serbia. Terpisah dari Sarajevo, ibukota negara, dan terperangkap dalam ketidakjelasan dan kurangnya perhatian terhadap wilayah ini. Sedikit banyak kita pasti mampu membayangkan dan merasakan penderitaan mereka..

Joe Sacco, seorang jurnalis Amerika sekaligus penulis buku ini, mampu menangkap berbagai perspektif berbeda mengenai kondisi kawasan Bosnia Timur ini ketika perang berkecamuk.


Meskipun, menurut saya, permasalahan seperti ini pasti tak lepas dari berbagai konspirasi yang melibatkan berbagai kepentingan dan kekuatan besar di belakangnya. Ah, rakyat kecil seperti kita dan mereka selalu dijadikan alasan dan alat saja oleh para penguasa lalim..

---------------------------------------------------------------------------

Saya tidak mau Indonesia ini akan kehilangan identitas sebagai bangsa. Bangsa kita harus berkaca. Bhinekka Tunggal Ika ini harus benar-benar di terapkan secara adil dan merata. Kita semua, terutama saya, sudah muak dengan berbagai alasan yang membawa aneka atribut untuk memaksakan suatu persamaan di tengah indahnya keberagaman dan perbedaan. Kita tak butuh persamaan, kita hanya perlu lebih bijaksana untuk menyikapinya..

Saya dan kita semua harus bersyukur dan senantiasa berdoa, bahwa bangsa Indonesia tercinta mampu dan tetap menjaga keindahan ditengah berjuta perbedaan.. Kita harus yakin bahwa bangsa ini akan berubah menjadi lebih baik, bangsa yang tidak hanya maju dan disegani, tetapi menjadi bangsa besar yang beradap dan menjujung tinggi kemanusiaan. Sungguh indah..
Read More »»»

Tuesday, October 18, 2011

Sebuah Perjalanan : Is It Worth Enough

Judul tulisan ini saya ambil dari obrolan seru di milis Indobackpacker. Bagi saya, menarik sekali membaca kisah perjalanan para traveler ini. Tidak hanya sumber informasi, tapi juga mampu menjadi inspirasi, motivasi, dan membuat saya iri setengah mati... Ah....

Forum pecinta jalan-jalan semacam ini memang sayang untuk saya lewatkan. Komunitas yang terdiri dari berbagai latar belakang usia, profesi, status menjadikan pokok bahasan yang lebih obyektif dibandingkan apa yang di tulis di buku panduan perjalanan atau blog pribadi. Aneka ragam motif dan gaya perjalanan : ikut tour, solo traveler, bekpek rame**, flashpacking, honeymoon package, business traveling, maupun naked traveler, menjadikan pilihan data sesuai kebutuhan kita. (NB: Terkecuali yang jalan jalan dari menguras keringat rakyat.. Ha3x..).

Back to topic. Mengenai obrolan sesuai judul di atas, banyak yang curhat mengenai bagaimana memenuhi dahaga akan haus jalan-jalan. Banyak dilema (mungkin juga saya), memutuskan nekat jalan-jalan atau harus rela bergulat mencari uang dan masa depan. Memang, sistem dan kondisi di negara kita ini tidak memungkinkan untuk mudah melenggang kangkung seperti para bule yang bebas ngeloyor keliling bumi, dan bisa kembali ke kerjaannya.. kalaupun jobless ya bakal ditanggung pemerintah. Nasib kita ?? Mau dikatakan apalagi..

Jalan jalan masih mahal (atau dianggap mahal oleh budaya kita). Meski saya bilang Kontradiksi. Kita mampu nyicil motor saat diterima kerja, rela ngredit mobil setelah 3 tahun bekerja, dan setia dengan promo 0% untuk upgrade gadget terbaru dan tercanggih. Konsumtif.. NB : saya tidak sebut setengah mati bayar angsuran KPR, karena itu memang investasi... (asalkan bukan karena alasan gengsi..).. Tapi, hidup ini memang hanya sebuah pilihan.. So, U are U...

Dari obrolan topik ini, banyak kisah sukses para Nekat Traveler yang memutuskan keluar dari comfort zone nya. Resign, untuk melanjutkan petualangannya dan berhasil mendapatkan penghidupan yang berkecukupan dengan pekerjaan yang sesuai passion mereka. Apakh kita harus begitu ? Ngaca duluuuu... Semua kisah sukses memang diawali dengan niat kuat (meski beberapa memang si lucky), tapi apakah cukup hanya niat ?? Tidak bisa... Mengetahui kemampuan diri sendiri, kelebihan dan kekurangan kita, sebelum membulatkan tekad untuk menentukan hati.

Si A bisa kok resign, sekarang jadi dapat penghasilan jadi travel writer. Tuh, Si Dia juga akhirnya sukses keliling dunia dan dapat uang dari guide orang. Noh, C dapat pasangan bule dan keliling bareng... Hmmmm... Kisah sukses mereka tentunya tak langsung berbuah manis. Dan apakah kita punya passion dan bakat dsana... Kalo nuruti jalan-jalan, siapa yang tidak mau...Bukannya takut atau menakuti, hanya apakah kita siap atau belum dengan risiko...

Bagaimana saya sendiri ? Hmmm.. Saya juga masih belum seberani rekan backpacker yang sukses bermigrasi. Masih banyak yang harus dikompromikan.. Tapi, insya allah saya berada di right track untuk sesuatu yang menurut saya lebih baik dan saya inginkan. Muncul motivasi besar, yang dulu sempat redup karena saya terlena oleh status quo. Semangat menggelitik untuk tak lagi menjadi katak yang terperangkap tempurung..

Saat ini, saya sudah puas dengan langkah saya untuk mengajukan cuti besar. Menjadi yang pertama mengajukan di Departemen saya, atau mungkin juga numero uno ntuk karyawan baru. Maklum, hak libur ini masih bisa ditukarkan dengan gaji jika kita rela mengembalikannya ke HR. Ha3x... Peraturan sisa kolonial... Akan saya revisi ketika saya jadi HR Manager kelak.. Ha3x...

Pertanyaan, komentar, sindiran atau apapun yang masuk hanya seperti angin lalu bagi saya. "Gak butuh duit ?" Yaelah, saya jalan-jalan jelas butuh duit banyak.. "Ambil aja, mumpung masih bujang".. Hadoww.. emang kalo udah nikah, duit segalanya.. Sudahlah, toh prinsipnya kan semua pingin nyari kesenangan.. Bagi saya, duit memberikan segalanya, tapi traveling memberikan apa yang saya perlukan.. Dan saya tak perlu segalanya..

So, Is It Worth Enough ? Yessss, It Is....
Read More »»»

Wednesday, October 05, 2011

When September Ends..

Mungkin bukan benar-benar September. Karena pernyataan "selesai" itu keluar 29 Agustus. Tapi perkataan langsung bahwa semua telah benar-benar selesai keluar 4 September, 2 hari menjelang 2,5 tahun komitmen kami.

Berat pastinya... Tapi, mau dikatakan apa lagi.. Saya juga tidak mungkin untuk mengharapkan belas kasihan dia atau memaksakan perasaannya untuk saya.. Saya akan bangkit ketika September telah berakhir.. Toh, memang hidup akan terus berjalan, kita mau ikut melaju atau tertinggal dan ditinggalkan..

----------------------------------------------------------------------------------------
Semua usaha telah saya lakukan. Usaha terakhir untuk memperbaiki semua juga telah gagal. Bersedih saya rasa sudah cukup. Semua mampu tertutup dengan beberapa pengalihan perhatian. Dukungan teman-teman juga telah membantu membuat saya lebih bijaksana untuk menerima.

Sekarang sudah Oktober. Meski belum sepenuhnya ikhlas, saya sudah mulai memahami ini yang terbaik untuk kami, untuk saya juga tentunya. Yang penting, saya sudah percaya bahwa semuanya sudah pada track yang tepat. Sekarang saatnya saya mengejar apa yang memang seharusnya saya kejar. Saya bahagia karena kejadian ini tidak merubah saya. Saya tetap orang yang percaya "miracle".

Tulisan ini mungkin tanda bahwa saat ini saya belum sepenuhnya sembuh. Tapi, saya percaya suatu saat saya akan menulis "Goodbye my lover".

Read More »»»

Saturday, September 03, 2011

Not Another Love Story

Seperti anggapan orang, saya yang sombong ini selalu berpikir hidup saya sudah lengkap. Pekerjaan idaman dengan kesempatan karir menjanjikan, keluarga yang sangat kooperatif, teman-teman yang masih sabar disekeliling saya, S2 yang berjalan sesuai planning awal, dan gaya hidup dengan pembororosan dan jalan-jalan yang menyenangkan.. Satu yang paling saya bahagiakan, memiliki dia, orang yang selalu menjadi sumber senyum saya dan memberi arah sebuah tujuan yang ingin dicapai. Memang, bukan suatu tujuan dengan rute mudah, tetapi sesulit apapun yang dilalui, saya yakin akan mampu. Karena ada dia disamping saya yang senantiasa menguatkan kaki saya ketika lelah melangkah dan mulai putus asa, menjadi pengingat agar mengembalikan saya ke track awal ketika saya tergelincir. Bahkan menjadi tempat dan peredam amarah saya yang terkadang lepas kendali.

Kami memang bukan dua orang yang memiliki kecocokan tinggi, kami juga bukan orang yang saling melengkapi, kami hanya dua orang yang saling menyayangi. Dua orang naïf yang mempunyai mimpi indah bersama, mencoba melakukan penyesuaian yang terkadang berat, menjalani hubungan dengan permasalahan laten dari awal komitmen. Keadaan yang tidak memihak kami dari awal, dan keberuntungan yang semakin mejauh dari kami. Tapi, kami bahagia dengan semua itu. Makan hati, menguras perasaan dan emosi bukan sesuatu yang kami anggap menyakitkan. Itu hanyalah sebuah proses perjalanan yang telah kami ketahui dan siap untuk dihadapi.

Kenyataan berkata lain. Dia lelah menemani saya, dia sudah ragu untuk melanjutkan perjalanan dengan saya dan dia sudah tidak mampu untuk melangkah bersama. Ketidaksempurnaan saya yang tidak mampu memahami keadaannya adalah sebuah riak kecil dengan efek dinamit, dari sesuatu hal kecil, terakumulasi menjadi gelembung besar yang akhirnya meledak. Siap ataupun tidak, saya harus mau menerima kenyataan bahwa dia hanya ingin hidup sepeti dulu, seperti sebelum ada komitmen dengan saya dalam rencana hidupnya. Menghapuskan saya dengan hanya melalui pernyataan bahwa kami teman yang sangat baik dan berharap saya bisa menemukan yang terbaik, tapi bukan dengannya. Dan ini, menghancurkan saya....

Saya tidak akan melakukan pembelaan karena begitu sering mengecewakan dia. Saya juga tidak mau menyalahkan keadaan, kami sudah memutuskan komitmen sejak awal dengan segala buruknya kondisi. Hanya saja, masih susah bagi saya untuk mencerna semua ini..

Ataukah ini karma. Saya pernah berprasangka kurang baik dengan segala anugerah Allah ini. Saya yang pernah mengalami roller coaster kehidupan menyadari bahwa pasti ada jalan naik dan turun. Ketika saya merasa hidup saya sudah lengkap, saya sempat berpikir bahwa keadaan ini tidak wajar, pasti akan ada suatu musibah bagi saya.

Subhanallah, seorang hamba yang seharusnya bersyukur malah mengharapkan datangnya keseimbangan hidup melalui sebuah ujian. Padahal, Allah jua lah yang Maha Pengasih sehingga memberikan kebahagian melimpah untuk saya. Tapi, saya yakin ini adalah cara Allah memberikan apa yang saya butuhkan untuk menjawab doa-doa saya..

Semoga Allah akan memberikan yang terbaik untuk saya, dengan cara-Nya yang tidak melebihi kemampuan saya sebagai manusia. Karena saya percaya, Dia lah yang mampu “membolak-balik” semuanya. Biarlah untuk sekarang saya berjuang, menaklukkan kenyataan dan terutama mengalahkan ego saya sendiri. Toh jalan menuju tujuan tak selamanya sepi, ada banyak ujian dan perangkap di setiap bagiannya..

P.S : Dan akhirnya dia mau menelpon saya, meskipun untuk meminta maaf dan mengutarakan kemantaban tekadnya meninggalkan saya..

“Good bye my love… You will always be my baby…”

Read More »»»

Thursday, August 25, 2011

Mudik Lebaran

25 hari sudah Ramadhan berlalu euy.... Siapkan diri untuk mudik. Rutinitas tahunan yang selalu membuat excited, tapi juga membuat puyeng kepala. Ngatur cuti, cari transportasi, oleh-oleh, atur jadwal di kampung dan seabrek kesibukan kecil lainnya.. Bagi saya-single, THR lumayan, kampung dekat dan cuti terjamin (maklum kantoran, gak perlu nyesuaikan jadwal pabrik.. ha3xx)- mudik tetap memerlukan sedikit perencanaan dan trik..
-----------------------------------------------------------------
Beberapa yang saya praktekkan (keberhasilan tergantung niat dan amal ibadah. He3x..)

1. Nuker Uang Receh Jauh Hari

Waktu kuliah dan awal kerja, angpao tidak menjadi masalah karena belum wajib. Maklum belum ada pemasukan atau gaji yang pas-pas an. Alhamdulillah, 3 tahun terakhir sudah ada rejeki yang bisa dibagi ke ponakan-ponakan. Mempersiapkan angpo juga menjadi masalah (atau kita yang menjadikan masalah), maklum ATM kan paling kecil uang biru, wah bisa bangkrut. Nuker di bank repot euy... Nukar di pedagang uang receh komersial di pinggir jalan juga bukan cara bijak..

Lalu bagaimana caranya ? Tentu saja, nitip teman yang kerja di bank. Ha3x.. Biar tidak merepotkan dan pasti mendapatkan jumlah sesuai keinginan, minta tolongnya sejak awal puasa atau bahkan sebelumnya.. Gak punya teman di bank ? kasihan amat.. Gak punya duit awal Ramadhan ? nabung euy, kalender sejak awal dibagi kan sudah jelas kapan lebaran. Ha3x..

2. Milih Transportasi Ideal

Prinsip awal, jangan ngirit. Lebaran semua transport bakal naik. Bus, kereta, pesawat, travel naik besar-besaran. Maklum, sejak nenek moyang kita, bisa dibilang pemerintah "belum bisa' memberi warga negara transportasi layak dan terjangkau saat mudik. So, anticipated that..

Kalo mau ngirit, cari tebengan.. Seperti saya yang dua lebaran terakhir sukses mudik gratisan. Tapi, risiko tanggung snediri.. Dua tahun lalu, saya terjepit di antara koper, tas dan kardus oleh-oleh... Tahun lalu, mobil tebengan mogok gara-gara teman lupa nyervis.. Ha3x.. Untung persis di depan kantor Polsek..

Selanjutnya, jangan memaksakan diri. Berada di rumah saat lebaran memang penting, tapi kenyamanan dan keselamatan itu yang utama. Kalo gak ada duit, ya gak usah pulang atau pulang ketika tiket masih/sudah normal. Insya Allah orang tua memahami.

Saat kerja di Cilegon, saya mudik selepas Sholat Ied. Tidak terburu-buru dan jalan sudah tidak semacet sebelumnya.. Alhasil, Cilegon - Magetan bisa ditempuh dalam 18 jam, tidak seperti teman saya yang terpaksa menempuh selama 29 jam.. Dan juga, adat di kampung ane, open house nya baru hari kedua.. Pas Mantab..

Ingat juga, fleksibel.. Tahun ini saya berniat pulang besok malam, eh tiket travel habis.. (Soalnya merencanakan tebengan, eh yang diandelin sudah mudik.. Ha3x..). Alhamdulillah, masih dapat tiket buat sabtu pagi.. Gak bisa jumat, ya sabtu. Ga bisa travel, ya bus.. Gak bisa mudik, ya kasihan banget.. Ha3x.. Enjoy Saja..

3. Gak Usah Bawa Oleh-Oleh

Ini saya yang dasarnya males beli dan ribet atau pelit.. Biarin.. Kalo saya pikir, di rumah sudah banyak makanan euy, kecuali kalo memang mudiknya di daerah desa banget yang apa-apa susah.. Ha3x.. Secara jaman sekarang, mini market sudah merajalela dengan segala kebutuhan Hari Raya, beli saja disana. Orang di rumah itu lebih senang menyambut kita loh, jadi semakin kita berdayakan maka akan semakin senang.. (kan kita yang merantau ini yang mestinya disambut.. Ha3x..).. Perut kenyang, hati riang, semuanya senang..

Pengalaman sebelumnya, saya membawakan baju untuk ponakan dan ortu. Malah ribet sendiri. Susah milihnya, bawanya dan belum tentu sesuai kebutuhan.. Makanya, tahun ini saya cukup kasih dana ke kakak ipar untuk dibelikan baju ponakan dan kebutuhan hari raya nanti.. Benar-benar praktis dan tepat guna.

P.S : jangan lupa BB, hape, ipod, buku dll untuk hiburan sepanjang jalan..

Selamat Mudik... Be Creative, Keep it simple and safe
Read More »»»

Sunday, August 07, 2011

Makna Usia

7 Agustus - Hari bersejarah yang patut dikenang bagi kami seluruh karyawan Semen Gresik. Sebuah perayaan dan tentunya peringatan bagi pencapaian yang dulu direncanakan. Sebuah penegasan komitmen sekaligus aktualisasi keberadaan perusahaan kami.


54 tahun, memiliki makna yang beragam jika menggunakan sudut pandang dan klasifikasi berbeda. Sebuah angka usia yang dibilang cukup tua untuk sebuah badan usaha pemerintah. Dalam pandangan ini, sebuah masa-masa menikmati kejayaan, hasil perjuangan panjang masa lalu. Namun, masa ini juga menjadi awal munculnya kekhawatiran akan masa depan dan selalu bergelimang bayangan kesuksesan masa lalu. (Lihat saja para pra pensiun, seperti itulah.. Ha3x..)

Akan menjadi sebuah usia muda jika dimasukkan dalam daftar perusahaan raksasa dunia. Sebuah usia yang cukup dewasa dan belum terlambat untuk lepas landas dan mencapai puncak tujuan. Titik awal sebuah perjuangan panjang nan berat ke depan, dimana sebuah kesempatan dengan berbagai rintangan akan menghadang. Itulah harga yang harus di bayar untuk sebuah tujuan yang telah dikumandangkan.

Semoga kami mampu melihat bahwa kami masih "hijau" sehingga akan senantiasa mau belajar dan berjuang..
Read More »»»

Tuesday, August 02, 2011

Bantimurung Bulusaraung

Sekali lagi, ekspektasi berlebihan akan suatu tempat membuat sedikit kekecewaan. Saya mendatangi tempat ini karena artikel dalam bonus booklet Taman Nasional salah satu majalah traveling. Memang tidak salah, dalam berbagai media dan situs resmi departemen kehutanan, kawasan ini di positioningkan sebagai taman nasional kupu-kupu... Ah, mungkin saya saja yang tidak beruntung..

Mengikuti gaya backpacker, perjalanan menuju kawasan ini kami tempuh dengan beberapa kali berganti pete-pete. Dari kota Makasar, perjalanan diawali dengan pete-pete menuju Maros, dan berganti dengan trayek Bantimurung di suatu pasar, saya lupa namanya. Tapi tenang, sang sopir akan dengan senang hati membantu kita. Seingat saya, untuk sampai di lokasi hanya perlu mengeluarkan 2 kali Rp. 5,000,- Tentunya dengan risiko lama, panas dan sesekali ngetem... He3x..

Perjalanan Maros ke Bantimurung akan menawarkan pemandangan yang cukup menarik. Desa-desa nan hijau dengan dengan beberapa hiasa bukit karst ketika mendekati lokasi taman nasional. Merlihat dan mendengarkan gaya masayarakat asli dalam berinteraksi turut memberi kesan lain. Bahasa, guyonan, busana dan outlook make-up yang berbeda menunjukkan bahwa negeri ini kaya akan keberagaman. Ha3x.. Inilah salah satu keindahan backpacking.

Komunikasi juga memerlukan toleransi kesabaran karena perbedaan dialek lingua franca yang cukup berbeda. (Eits.. jangan underestimate. Seorang ahli Bahasa Indonesia yang mengarang buku-buku sekolah kita adalah Putra Celebes,. Yup, JS Badudu adalah putra Gorontalo).

Pada awalnya, saya cukup surprise taman nasional ini cukup ramai. Hiruk pikuk keluarga yang piknik cukup membuat saya sempat mersa bahwa ekspektasi datang ke tempat ini tidak salah. Tentunya, tujuan saya adalah berharap bisa bercengkerama dengan ratusan kupu-kupu. Tapi terus terang saya kecewa. Ketika mendatangi salah satu pos petugas taman nasional untuk meminta sedikit keterangan, pelayanan yang tidak baik kami terima. Peta yang tidak tersedia, petugas yang asyik sendiri dan mengacuhkan kami, dan keterangan yang dijawab asal-asalan. Dari keterangan bahwa kebun pembiakan kupu-kupu ada di luar kawasan, tidak jauh tapi kalau jalan kaki bisa gagal. Keterangan juga memberikan kalau kami tidak bisa masuk kesana.. What a hells...

Saya bingung, kawasan ini menjadi seperti salah branding. Segala pemberitaan dan promosi berusaha membuat image sebuah Taman Nasional Kupu-Kupu satu-satunya di Indonesia. Tapi segala pengelolaan dan fasilitas lebih membentuk kawasan ini menjadi tampat rekreasi keluarga biasa dengan air terjun, goa-goa dan danau buatannya. Memang air terjun dan kesejukan alamnya cukup memberikan refreshing. Tapi bukan itu tujuan saya kesana..

Kupu-kupu yang saya nikmati hanya beruba kerajinan tangan dengan motif memanfaatkan jasad binatang indah ini. Gantungan kunci, pajangan dinding dan berbagai aksesoris kupu-kupu dijajakan oleh banyak pedagang di pintu masuk. Cukup mengejutkan, pada pajangan dinding yang saya beli ada nama latin dan habitat sang kupu. Tidak hanya species asli Bantimurung, banyak pula yang berasalh dari Papua, Sumatera dan kawasan lainnya.. Artinya, kawasan ini cukup berhasil mengembangbiakkan berbagai species kupu-kupu..

Bantimurung memiliki berbagai hal yang potensial untuk dikembangkan menjadi suatu kawasan yang menarik. Promosi memang perlu tapi tidak cukup dan akan sia-sia tanpa perbaikan fasilitas, pembenahan sistem dan pelayanan yang memenuhi harapan kami para penikmat jalan-jalan.
Read More »»»

Sunday, June 12, 2011

Julie's Challenge

Sedikit terpengaruh secuil adegan dalam film Julie & Julia, saya kembali menengok blog saya yang mulai terlantar. Kalau harus dan boleh ada alasan, saya pasti akan segera menyalahkan tugas-tugas kuliah yang menyita waktu luang selepas bekerja. Saya memang bukan Julie yang awalnya seorang penulis novel yang frustasi namun akhirnya menemukan dunia baru lewat blog. Blog bagi saya adalah wadah lain untuk berekspresi, atau kalau dikaitkan dengan teori kebutuhan Maslow, blog menjadi salah satu media pemenuhan kebutuhuhan akan aktualisasi diri.

Teori ini memang sudah dipatahkan oleh beberapa prinsip sesudahnya, Herzberg salah satu yang saya ingat (kelihatannya saya harus kembali membaca materi cawu pertama he3x). Kembali ke Julie, salah satu cara dia berdamai dengan keadaan adalah dengan memaksa dire untuk menulis. Menantang Julia, idolanya, untuk berlomba menghasilkan 364 resep makanan dal am satu tahun.. Cara yang ambisius namun ampuh menjadi acuan dan motivational driven..

Sementara, saya yang senang dan terbiasa mengisi blog dengan tulisan seputar traveling menjadi kehilangan ide. Demotivasi disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam beberapa waktu terakhir dan mungkin juga ke depan akan sulit untuk melakukan jalan-jalan yang menjadi summer inspirasi saya. Cukup, saya sudah harus menyadari, ini sesuatu di luar kapasitas saya untuk merubahnya.

Sekarang, saya harus berdamai. Bagaimana caranya ? Memotivasi diri adalah cara terbaik. Tentunya motivasi dari dalam yang diperlukan. Target sudah saya tetapkan, setiap bulan minimal 1 tulisan yang menggambarkan tentang keindahan negeri saya, Indonesia. Tantangannya ? Tulisan dikerjakan dengan sebaik-baiknya, sementara dengan standar saya saja. Ha3x..

Banyak perdamaian yang saya lakukan. Selain berdamai dengan waktu luang, ini wujud peran saya yang sering mengkritik kinerja kepariwasataan negara ini. Atau inilah wujud minimal pengenalan wawasan kebangsaan saya..

Ok.. Let's see..

Minggu sore, selepas kuliah..
Black Canyon Coffee TP
Read More »»»

Sunday, May 01, 2011

Visit Makasar : In My Own Way...

Makasar ? Kota yang dulunya bernama Ujung Pandang ini selalu saya identikkan dengan Sultan Hasanudin dengan Kerajaan Gowa-nya. Di SD dulu, replika gambar nya terpasang gagah di tembok kelas dengan sebilah badiknya, bersandang dengan Teuku Umar, Cut Nyak Dien, RA Kartini, Kapiten Pattimura. Sisingamangaraja, dan Pangeran Diponegoro. Karena keberanian dan perlawanannya, oleh para meneer Belanda, beliau dijuluki "Ayam Jantan Dari Timur..

Sudah lama saya menantikan kesempatan gratis dari kantor untuk mengunjungi bumi yang dulu diperjuangkan oleh beliau ini, tapi belum berjodoh.. Ha3x.. Alhamdulillah, akhirnya akhir April kemaren saya berhasil kesana dengan biaya sendiri... :p Let's to the journey..


Kapan Kunjungan Terbaik Kesana ?

Pertanyaan susah. Kunjungan tepat pastinya adalah di luar musim hujan. Nah, musim sendiri sekarang sudah tidak bisa diprediksi. Pelajaran SD dulu menyatakan bahwa angin muson barat yang bertiup dari Asia menuju Australia pada periode Oktober - April adalah pembawa hujan. Alhamdulillah, Allah memberikan rahmat dan peringatan-Nya dengan memberikan hujan sepanjang tahun...

Penentuan waktu kunjungan bisa disesuaikan dengan jadwal beberapa cara besar di daerah lain sekitar Makasar, seperti Festival Phinisi di Tanjung bira (Kab. Bulukumba) dan Festival Toraja di Toraja Utara. Untuk alasan ini, kita harus rajin simak milis para petualang, karena entah mengapa gaungnya seringkali kurang kencang...

Atau boleh seperti saya yang menuju kesana ketika ada waktu luang dan harga tiket yang wajar. Libur Paskah lalu yang lebih beruntungnya diikuti libur kuliah adalah waktu yang pas untuk mengunjungi Makasar, tepatnya 22 - 24 April 2011.

Bagaimana cara ke Makasar ?

Silahkan sesuaikan dengan lokasi keberangkatan, dana dan waktu yang tersedia. Jika seperti saya yang dari Surabaya, tersedia beberapa maskapai yang melayani penerbangan langsung dengan fleksibilitas jadwal dan harga, maklum Makasar adalah lokasi transit untuk membelah kawasan Indonesia Timur. Maskapai yang umum adalah Garuda, Sriwijaya, Lion air, Batavia dan Citilink...

Prioritas pilihan tentunya silahkan disesuaikan dengan jadwal dan harga. Untuk keberangkatan, saya memilih Sriwijaya pada penerbangan pertama pukul 06.00 WIB. Sedangkan rute balik saya memilih Citilink jam 12.45 WITA. Total tiket sekitar 900 rb-an, terbilang murah untuk rute ini tetapi terbilang mahal dibanding ke Penang dengan Air Aisa sebelumnya... Ini kenyataannya.. Ha3x..

Susah gak Sih Akomodasi di Makasar ?

Akomodasi adalah salah satu hal yang memerlukan persiapan besar untuk traveling, terlebih lagi untuk suatu wilayah yang petunjuknya di google sedikit. Saya menyesal telah menyepelekan saran teman untuk mempersiapkan peta jalan dan menyusun itenary. Dalam pikiran saya, ah pasti ada peta yang di sediakan di bandara sana, seperti di Penang kemaren. Apalagi, saya mendapat info bahwa salah satu operator seluler menyediakan peta wisata sebagai salah satu bentuk promosinya... Duar, semua hanya fatamorgana...

Transportasi umum disini boleh dibilang hampir sama dengan Surabaya dan Bandung. Moda transportasi andalanny adalah "pete-pete" alias angkot bin bemo... Dengan rute sama persis dengan kota besar lainnya di tanah air ini, ruwet kuadrat...

Penginapan murah juga lumayan tersedia. Saya dan rekan memilih Wisma Faris yang terletak di Jl. Timah dekat Patarani Square... Fasilitas untuk kamar standar seharga 150 rb terbilang rata-rata air.. Bed ukuran 140 dilengkapi dengan AC & TV serta kamar mandi dalam seperti kos-kos an (tanpa shower dan bak mandi, bak plastik -red).. Untuk lokasi adalah relatif, taxi ke trans studio/losari 20 rb-an (15 menit) sedangkan ke bandara 80 rb (45 menit).. Enaknya, di kawasan ini mudah menemukan makanan, ada yang disamping persis atau yang 100 meter di dekat jalan raya.. Mungkin lebih enak kalo mencari penginapan di dekat Losari, bisa melakukan explore kawasan Somba Opu...

Apa yang bisa dilakukan di Makasar ??

Banyakkkk... Menikmati seluruh kota ini memerlukan waktu relatif panjang. Maklum, seperti semua kota besar di negeri ini, masalah utama adalah pada sistem transportasi yang relatif buruk. Untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain memerlukan waktu ekstra, apalagi jika memilih angkutan umum murah ala backpacker saya..

Untuk saya yang hanya mengalokasikan 2 hari satu malam menjelajadi kota ini, prioritas lebih diutamakan untuk mengunjungi icon dan landmark kota ini, antara lain :

# Trans Studio

Icon baru yang pada awal dilaunching cukup membuat penasaran, khususnya saya.. Taman hiburan indoor terbesar, siapa yang tidak ingin kesana.. He3x.. Langsung terbayang Ancol yang di masukkan kubah dan dilengkapi pendinginn ruangan.. Enaknya...

Kenyataannya ?? Hmmmm.... Cost sebesar Rp. 160 rb (10 rb utk tiket pass, 100 rb utk 15 wahana, 50 ribu utk 5 wahana utama) akan dinilai subyektif dan relatif... Untuk sebuah first experience, nilai ini masih saya kategorikan relevan.. Tetapi secara opportunity cost, nilai ini masih terlalu besar apabila di anggap harga dan waktu yang dihabiskan disana bisa lebih memberikan kepuasan di tempat lain.. (efek mabuk accounting)..

Kenyataan ini diperparah dengan adanya maintenance utk Dragon Tower, salah satu wahana utama. Kenapa ya pengelola tidak memberikan kompensasi untuk mereka yang telah membeli tiket all wahana utama. Secara logika, pengunjung yang membayar tambahan 50 rb pastinya ingin merasakan semua wahana utama.. Memang sudah diinfokan di awal, tapi apakah benar cara seperti ini ?

Secara umum, datang kesana akan lebih bermanfaat jika mengajak anak, keponakan atau anak - anak kecil lainnya.. Bagi yang pernah merasakan Ancol, semua wahana terasa seperti KW 1. Dalam arti, tingkat adrenaline dan hiburannya masih perlu ditingkatkan. Mungkin dengan pengemasan dan penyalian lain yang lebih pantas dan menarik.. Bahkan arena Jelajah yang saya ekpektasikan semenarik tayangannya di TV, tak lebih hanya seperti derivatif dari Niagaragara nya Dufan... Ekspektasi yang terlalu berlebihan akan mendatangkan kekecewaan, sehingga lebih baik mengharapakan secara wajar..

Namun, kita harus mengakui kelebihannya juga.. Konsep taman indoor ini cukup mengejutkan.. Terlebih keberanian memilih Makasar sebagai letaknya.. Salutt... Salut.. Mari kita melakukan penmbangunan secara merata, termasuk juga pariwisatanya... Thumb up..

Tips :
- pertunjukan teater drama hanya dilakukan pukul 14.00 WITA.
- ada shuttle bus gratis dari dan ke sini tiap 15 menit, dan yang penting bisa menuju Losari..

# Pantai Losari

Sayang, saat menginjakkan kaki kesini, mendung dan gerimis menyelimuti.. Padahal, sore hari itu adalah saat yang tepat untuk menantikan sunset... Konon, pantai inilah satu-satunya kawasan yang horizonnya mampu menampilkan sunset secara penuh... Ah, saya harus kesana lagi...

Dalam kondisi ini, rencana saya untuk menyeberang ke pulau kecil di sekitarnya juga berantakan.. Terlalu beresiko ah.. Dari google, saya menemukan rekomendasi pulau yang layak dikunjungi.. Samalona dan Kapoposang.. Menuju samalona memerlukan waktu 45 menit, sedangkan ke Kapoposang (Bulan Sabit) sekitar 1 jam.. Tuh kan, memang lain kali saya harus kembali ke Losari...

Tak patah aral, saya menikmati suasana Losari dengan memanjakan perut.. Xixixixix. Persis di depannya ada Jalan Datu Musen yang merupakan Kawasan Kuliner Khas Makasar.. Alhasil, pisang epe, palu bassa dan Mie Titi meluncur melalui kerongkongan menuju lambung saya.. Amboii, kenyangnyo....

# Monumen Mandala

Sumpah mati, saya baru teringat bangunan bersejarah ini ketika melintasi di depannya... Bagaimana mungkin dalam catatan blogger tidak ada yang menyebutkan, atau saya yang kurang membaca dengan teliti... Ternyata, nasibnya lebih parah dari Tugu Pahlawan... Padahal, bagi wilayah timur, khusunya Papua, bangunan ini merupakan bukti sejarah penting... Ah, saya jadi makin menyesal, sudah 8 tahun lebih bermobilisasi sekitar Surabaya, saya belum pernah memasuki Tugu Pahlawan.. Padahal setiap sabtu dan minggu saya selalu melewatinya... Hiks..hiks...

MOMUNEN Mandala merupakan bangunan menara yang menjulang setinggi 75 meter di pusat Kota Makassar. Di monumen ini juga terdapat berbagai macam relief dan diorama tentang perjuangan pembebasan Irian Barat. Pengunjung juga dapat menyaksikan bentangan Kota Makassar dari ketinggian.

Monumen Mandala menjulang dengan ketinggian 75 meter dari permukaan tanah. Mulai dibangun pada tahun 1994 dan selesai pada tahun 1996, untuk memperingati perjuangan rakyat indonesia dalam membebaskan Irian Barat dari tangan penjajah. Bangunan ini terdiri dari empat lantai.

Monumen Mandala terletak di Jl Jenderal Sudirman, lokasinya hany 200 meter sebelah selatan pusat Kota Makassar (Lapangan Karebosi).

Sumber : http://wisata.makassarkota.go.id
Picture : http://raddien.blogspot.com/2011/03/monumen-mandala-pembebasan-irian-barat.html

-----------

Flashpacking kali ini semakin menunjukkan kualitas sistem pariwisata Indonesia. Eits, obyek wisatanya tidak salah apa-apa, terlalu indah dan belum termanfaatkan... Hmmm, yang salah adalah pengelolaannya, baik dari tahap promosi, pengembangan dan segala penyediaan fasilitas penunjangnya...

Buktinya ?? Silahkan browsing dengan google, dijamin pasti susah sekali menemukan cerita ataupun panduan perjalanan di kawasan Indonesia (selain Bali tentunya), tapi kalo browsing tentang Singapura, Bangkok & Thailand pasti berjibun.. Baik itu dari website resmi pemerintah, travel agent maupun catatan pribadi dalam blog..

Namun selalu ada alasan untuk jalan-jalan, tak perlu menunggu "gratis" untuk ke Makasar.. It's only about my journey, This is Makasar in My own Way..

Let's to Next Story, Bantimurung...
Read More »»»

Sunday, April 24, 2011

New Spirit : 3P's

Membaca buku Notes from Qatar oleh Muhammad Assad menggelitik saya untuk mengambil tagline penting dari kumpulan cerita yang merupakan tulisan dalam blog-nya. Positive, Persistence, Pray. Kesempatan kali ini, saya akan sedikit melakukan permainan kait-mengkaitkan buku yang saya baca selama perjalanan terakhir saya ini (cerita perjalanannya nanti dulu yah, nunggu mood). Tentunya dengan cerita dalam kehidupan saya. Kenapa demikian ?? Karena ini adalah blog saya.. Ha3x... Dan agar tidak berat, permainan kait-mengaitkan ini dengan pengalaman traveling saya saja.. :p Kalo masalah pribadi saya, tidak menarik untuk diceritakan.. Sinetron bisa kalah mbuletnya (rumitnya -red).. Ha3x..
-------------------------------------------------------------------------

Positive.


"Boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui" (QS.Al-Baqarah[2]:216).

Sedikit curhat, dalam merencanakan traveling seringkali saya terbentur dengan berbagai hal. Musuh terberat adalah jadwal. Dana ?? Eits, kalo dana ya nabung pastinya. Teman jalan? Ah, sendiri juga oke... Contohnya adalah rencana trip Karimun Jawa yang untuk kesekian kalinya harus batal. Terakhir adalah saat liburan Paskah ini, trip gagal total karena paket dibatalkan oleh tour guide. Padahal sudah jauh hari saya booking dengan membayar depe. Saya juga bersemangat sekali karena berhasil mendapat 12 pasukan dari teman-teman K-42.

Kenyataan berubah, akhir bulan Maret, tour guide dari Sukawisata memberi kabar bahwa untuk paket 3 hari terpaksa di batalkan karena pihak ASDP tidak bisa menyediakan tiket dengan alasan mengutamakan pembelian pp.Paket kami rencana berangkat dengan KM Muria melalui Jepara dan kembali dengan Kapal Cepat Kartini menuju Semarang. Sehingga kami harus memilih paket 2 hari dengan pp via Semarang atau memperpanjang jadwal selama 4 hari dengan pp melalui Jepara.. Setelah diskusi dan dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan batal.

Persistence

Sebagai late traveler, umur segini baru asyik traveling, nekat selalu menghalalkan segalanya adalah paham saya. Setiap hari saya selalu mengecek berbagai harga tiket dari berbagai maskapai. Rencana semula ke KL saja dengan Air Asia, gagal karena terlalu mahal. Plan B adalah menggunakan voucher menginap dan tour gratis ke Manado, gagal karena voucher asli belum diterima. Tak patah aral saya mengontak sepupu di Kupang, eh si eneng malah ke KL sama teman-temannya.

Menjelang minggu-minggu akhir, saya mendapatkan rute dan teman yang pas. Ke Makasar dengan sahabat setia saya.. He3x... Ketika booking tiket, setelah semua terisi termasuk kartu kredit saya dan klik akhir, proses berhenti.. Beteeee.. Bodohnya saya, pindah ruangan membuat saya kehilangan signal wifi. Takut terjadi double payment, saya menunggu beberapa saat,. Agar lebih yakin lagi, saya menelpon customer service, ahay belum tercatat.. Dan apa yang terjadi saudara-saudara, ketika memulai proses dari awal lagi, harga tiket sudah turun 50 rb, dan inilah tiket termurah sepanjang hari itu (sahabat saya itu mengecek sorenya dan malah melambung mahal). Alhamdulillah..

Pray...
Budget traveling selalu identik dengan standar kenyamanan yang lebih rendah.. Penginapan dengan fasilitas seadanya, pesawat yang berangkat di luar peak time, tempat makan sederhana dan banyak olahraga alias jalan... Eitss, itulah tantangan dan seninya.. Kita harus mampu menakar tingkat kekerean kita sendiri. Jangan dipaksakan...

Seperti saya yang tidak bisa memakai baju basah, so saya selalu sedia topi dan payung. Menghindari fan karena saya mudah masuk angin. Sampai-sampai di Penang saya memilih membuka jendela daripada menyalakan fan, maklum kamar non AC.. Ha3x.. Sunblock dan obat sakit kepala adalah senjata saya ketika menghadapi panasnya cuaca... Temasuk gaya minum ala onta, maklum saya mudah berkeringat dan dehidrasi.. SO, kenali diri kita sendiri..


Di luar semua itu, berdoa adalah senjata ampuh saya untuk meminimalisir semua ketakutan kita sebagai manusia. Takut kesasar, takur kehilangan barang, takut sakit dan bahkan takut dengan keselamatan kita dalam perjalanan..

“(Dan) Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.” (QS. Al Mukmin : 60).

Thanks for Muhammad Assad, author of Notes from Qatar. Dengan usia lebih muda, tulisan beliau mampu memberi inspirasi saya untuk terus memperbaiki diri.. Amien.

Next Story: Makasar City Tour..

Read More »»»

Tuesday, April 19, 2011

Anak Seribu Pulau

Saat pelajaran IPS SD dulu, saya ingat bahwa Indonesia memiliki 17 ribu lebih pulau yang terhampar dari Sabang sampai Merauke serta dari Miangas hingga Pulau Rote.Tapi hasil survei dan verifikasi terakhir Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) diketahui bahwa Indonesia hanya memiliki sekitar 13.000 pulau (Antara, 17 Agustus 2010).

Penurunan jumlah pulau yang dimiliki Indonesia tidak berkaitan dengan hilangnya pulau akibat kenaikan muka air laut akibat pemanasan global, atau karena penggalian pasir laut. Tetapi hanya masalah akurasi data saja, karena selama ini belum ada survei yang menghitung jumlah pulau-pulau di Indonesia secara keseluruhan.

Apapun penyebabnya, pemerintah sebagai pemegang amanat rakyat harus mampu menjaga kedaulatan bangsa. Jangan sampai terjadi lagi kisah Sipadan & Ligitan jilid 2 ataupun kisah penjualan pulau yang sempat heboh di dunia maya beberapa tahun lalu. Penjualan pulau ini merupakan anomali yang mebuat miris, dimana kenyataannya tidak hanya pulau di daerah terpencil yang telah berpindah tangan ke orang asing. Beberapa pulau nan indah di Kepulauan Seribu, yang masih dalam wilayah Daerah Khusus Ibukota, juga tidak bisa dinikmati lagi oleh putra bangsa karena sudah bukan hak negara. Pembelinya bukan hanya warga asing, beberapa pejabat dan milyuner negeri pun juga ingin menjadi raja di pulaunya sendiri.. Ironis..


Sudahlah… Mengingatkan pemerintah wajib tapi mengandalkannya jangan… Ha3x.. Mari kita sedikti evaluasi dan berkaca, apakah kita sudah layak dan siap disebut Anak Seribu Pulau, Lets answer the question..
Berapa banyak pulau di Indonesia yang sudah kita kunjungi ?
Tidak lebih dari jumlah jari tangan dan kaki saya. Saking sedikitnya, saya masih bisa ingat nama pulau pulau ini : Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Lombok, Gili Air, Gili Trawangan, Sempu, Derawan, Kakaban, Sangalaki, Maratua.. Ironis, hanya 12 buah alias 0,092 persen..

Ralat : Saat melintasi laut Jawa dalam penerbangan kembali dari Makasar, seorang teman bertanya "eh di Madura ada pabrik yah ??" Langsung saya teringat, bahwa satu tambahan koleksi pulau Indonesia yang saya pernah jejaki, bahkan sejak SD dulu... SO, total adalah 13 pulau atau 0,1 persen,, Masih jauhhhh...
Apakah bisa berenang ?
Tentu tidak.. Ha3x.. Sebagai cucu para nenek moyang pelaut handal, banyak juga dari 200 juta lebih penduduk yang tidak bisa renang.. Tapi saya tidak mencari pembenaran, tidak enak juga rasanya snorkeling harus mengandalkan lifejacket terus.. APalagi jika ingin belajar diving, minimal harus mahir dulu renang… Semangattt…
Apakah pernah mabuk laut ??
Alhamdulillah tidak.. Perjalanan laut terpanjang saya adalah Balikpapan – Surabaya dengan KM Tidar. Meskipun 28 jam lebih, perjalanan ini tidak terasa karena saya bersama rombongan besar yang terdiri 100 orang lebih. Perjalanan laut paling mencemaskan adalah Lombok – Bali dimana selama perjalanan seperti spot jantung. Ombak yang besar terasa menggoyang kencang kapal, bahkan menyewa kamar ABK pun tetap tak mampu menghilangkan wajah pucat pasi kami.
 
---------------------
Kesimpulan :

Dari ketiga pertanyaan sederhana tersebut, saya menilai diri ini belum layak menyandang predikat anak seribu pulau.

Kuesioner di atas memang tidak dilakukan dengan metode statistik yang njilimet dan valid. Hanya sedikit iseng untuk menunjukkan seberapa kuat merasuknya jiwa bahari kita.. Ha3x.. Penelitian untuk itu juga tidak perlu dilakukan, karena yang diperlukan adalah tindakan nyata... Seperti saya yang akan selalu senang untuk mengunjungi puluhan ribu pulau tersisa yang belum saya jamah. Kan kalau tak kenal maka tak sayang... :p
Kita tidak harus mengingat dan mengunjungi keseluruhan pulau indah ini. Karena saya menilai “makna” dalam sebutan anak seribu pulau adalah dimana kita bisa menggunakan potensi kelautan kita, baik untuk pariwisata maupun perikanan dengan tetap menjaga dan menjamin baik kedaulatan maupun kelestariannya. Hmmmmm…. Tentunya sesuai dengan peran dan batas kekuasaan kita masing-masing…

Sehingga suatu saat kita semua memang layak disebut “Anak Seribu Pulau”

Read More »»»