Saturday, November 17, 2012

Jeepney, Jollibee, Jakarta..

Negara mana di kawasan Asia Tenggara yang dua tahun berturut - turut ini mampu menembus 5 besar Ajang Miss Universe?  Pasti banyak yang menduga Thailand yang terkenal dengan lady boy-nya. Kalo yang "KW" saja cantik, pasti yang "original" jauh lebih cantik. Faktanya, perwakilan Filipina lah yang berhasil menyaingi dominasi Latinas, sebutan para wanita Amerika Selatan yang konon bayangannya saja sexy.. 
-------------------------------------------

Lupakan urusan kontes, pesona negara yang terdiri dari 7.107 pulai ini jauh lebih mempesona. Saat ini, potensi pariwisata Filipina mulai menanjak seiring dengan promosi dan akses yang semakin mudah. Pelancong tentu tak asing lagi dengan Boracay yang konon seindah Bali, Puerto Princessa yang booming saat pemilihan 7 Wonders of Nature, Balut -makanan khas yang menantang nyali, atau bahkan gerakan separatis muslim di Mindanao.

Liburan hari raya kurban lalu, saya menjajal petualangan di negeri yang pernah dikuasai diktator Ferdinand Marcos ini. Dalam 3 hari 2 malam, saya habiskan dengan eksplorasi fokus di ibu kotanya saja, Manila. Rizal Park, Inframuros, Mall of Asia, dan City Hall adalah spot yang sempat saya singaghi. So, bagaimana kesan saya ?


Easy Access ??

Pesawat Airbus A320 dari Kuala Lumpur yang membawa saya mendarat di Diosdado Macapacal Airport di Clark pada siang hari. Waktu di Manila menggunakan Philippine Times yang notabene sama dengan Waktu Indonesia Tengah (WITA). Bandara ini terletak di sebelah utara Luzon, pulau terbesar di negara yang ikut memprakarsai pendirian ASEAN ini. Jarak menuju ibukota Manila cukup jauh dengan waktu tempuh 2 jam perjalanan darat. Di Manila sendiri terdapat bandara yang lebih besar, Ninoy Aquino International Airport, yang hanya berjarak 20 menit dari downtown,

Jeepney from Jeepney
Perjalanan dari Clark (begitu bandara ini sering disebut -red) di Pampanga menuju Kota Metro Manila, saya tempuh dengan nyaman dalam bus bandara. Bus bandara akan berangkat tanpa menunggu penumpang penuh dengan destinasi akhir di Manila. Ketika membeli karcis, kita harus menyebutkan tujuan dengan jelas. Hal ini dikarenakan harga karcis dikenakan sesuai dengan jarak.  Saya dikenai tarif 50 PHP lebih mahal daripada aslinya karena dicharge untuk pemberhentian terakhir. (Note: di Manila terdapat tiga halte yaitu Cubao, Megamall, Pasay).

Hal paling penting bagi wisatawan asing, Filipina tidak memiliki terminal pusat untuk bus umum (seperti Kampung Rambutan atau Purabaya-red). Setiap bus akan berhenti di terminal/garasi mereka sendiri (layaknya Rosalia Indah atau Safari Dharma Raya -red). Jadi, kita harus memastikan telah menunggu bus yang benar di terminal yang tepat pula agar tidak salah jurusan, terutama ketika kembali ke bandara. (Tips: Kalau mau hemat, silahkan menaiki bus Resort World Manila. Free, cukup berikan honor sukarela kepada drivernya.. Hex..).

Saya berpikir transportasi publik di Manila sudah cukup baik karena memiliki MRT. Namun, jangkauan moda ini masih sangat terbatas dan kereta yang digunakan tidak secepat di Singapore atau Kuala Lumpur. Pada jam - jam sibuk, MRT penuh sesak menyerupai KRL Jabodetabek (saya tidak sempat mencoba, susah sekali mencari stasiunnya -red).

Moda transportasi primadona negara ini apalagi kalo bukan Jeepney. Mobil bekas perang yang bagian belakangnya disulap untuk penumpang dengan posisi duduk di sisi kanan dan kiri sehingga berhadapan. Tak hanya mengangkut penumpang, saya pernah menyaksikan sebuah  jeepney yang disulap untuk mengangkat 3 ekor babi gemuk.. Ha3x..

Sebenanya, ada satu lagi moda transportasi yang layak di coba, Pasig River. Permasalahannnya, selain susah bangat ditemukan, moda satu ini hanya beroperasi di pagi dan sore hari. Pembangungannya mungkin memang ditujukan untuk keperluan wisata saja.

Local Food

Obsesi kuline terbesar saya adalah mencoba Balut, makanan lokal berbahan dasar embrio ayam atau bebek yang dimasak dengan direbus. Sekilas terkesan menjijikan, namun konon rasanya seperti diguna - guna. Ha3.. Seingat saya, masayarakat Jawa-pun memiliki makanan sejenis yang disebut "Uritan".

Sayangnya, keinginan ini hanya berbalas mimpi. Saya tidak menemukan sama sekali tempat yang menjajakan makanan ini (maklum, saya sendiri menghindari penjual makanan yang terkesan jorok -red).

Alhasil, wisata kuliner saya sebagian besar dihabiskan dengan menyantap Jollibee. Karena baru menemukan di Manila, saya pikir restoran cepat saji ini made in Phillipines. Tak dinyana, franchisornya tetap saja dari Paman Sam. Brrrr.... Beberapa makanan di kedal lokal dinamai cukup unik bagi telinga saya, Bagong, Sisig dan banyak lagi. Saya urung mencoba karena bahan dasarnya mengandung daging. Meski menyedikan daging non babi, saya memilih menyantap menu vegetarian saja..

Bad Season.

Bulan Oktober memang saat yang tidak tepat untuk mengunjungi negara ini. Selain sudah memasuki musim hujan, letak geografisnya yang menghadap Samudera Pasifik sangat berisiko adanya badai. Mei - Juli adalah periode paling tepat untuk berkunjung. Selain terhindar dari hujan dan badai, festival dan acara besar banyak digelar di kesempatan ini. Perlu diperhatikan bahwa dalam kondisi hujan, kondisi jalanan di Manila cenderung tergenang dan dikhawatirkan berpotensi banjir. Permasalahan yang sama dengan ibukota negara kita, Jakarta...


Samsey Supsup (3th runner up Miss Universe 2011) & Venus Raj (4th runner up Miss Universe 2010) - sumber : Google
"No one ever saw me like you do, all the things that I could add up too. I never knew just what a smile was worth, but your eyes see everything without a single word". Lagu manis penyanyi Filipina ini menemani akhir perjalanan saya. Meskipun sedikit berantakan, traveling kali ini tetap penuh kejutan dan pengalaman...

1 comment:

intansliw said...

Ihiyy akhirnya dipublished jg Filipinosnya