Monday, March 28, 2011

No Boundaries...

Sedikit merubah gaya penulisan blog, saya mencoba keluar dari kebiasan saya yang selalu menulis segala sesuatu dengan bahasa yang kurang ringan.. Ha3x.. Saya tidak menyukai buku yang terlalu berat dalam penulisannya, tapi membaca beberapa postingan saya sebelumnya merupakan kontradiksi. Pemilihan kata saya seperti seorang yang sok serius, padahal teman saya sekalian pasti mengetahui saya ini orang seperti apa.. Maklum, gaya penulisan saya masih dalam taraf belajar dan berkembang..

Waktunya bersantai dalam menulis, saya akan mengenang sedikit untold story selama perjalanan pendek saya dalam traveling. Jangan protes dengan temanya, saat ini saya sedang tergila-gila dengan yang namanya traveling, backapcking, flashpacking atau apapun istilahnya.


RAME RASANYA !!!

Bagimana rasanya jalan-jalan ?? Pasti kayak permen nano-nano.. Senang, puas, kecewa dan capek tarasa campur aduk.. Satu lagi yang pasti, kantong bokek... Tapi pengalaman yang ada pasti lebih dari semua yang kita korbankan. Ha3x..

Kalo ditanya yang paling membosankan, jawaban pastinya adalah penerbangan delay. Menunggu, mau versi Rhoma maupun Ridho pun pasti terasa membosankan. Mau ke food court eh mahal... Mau ngobrol, iya kalo pergi sama teman. Baca buku dan denger musik sampe sudah eneg..

Rekor terlama keterlambatan sampai dengan sekarang adalah 2 jam. Lebih anehnya justru dipegang oleh maskapai Garuda yang baru saja masuk lantai bursa. Sebagai seorang yang selalu mencari tiket promo, saya sudah siap mental untuk terlambat. Tapi untuk yang satu ini saya tidak bisa tolerir. Bagaimana tidak bete, rencana kami makan malam di kawasan Jimbaran jadi buyar... Brrr..

Kalo urusan menyakitkan adalah ditipu. Saya yang menjunjung tinggi prinsip "kere" ini termasuk waspada kalo urusan beli-beli sesuatu di tempat wisata. Selain lebih mahal, akan banyak tiruan. Tapi kali ini adalah diitipu soal penginapan, di kawasan Senggigi tepatnya. Kamar yang katanya bisa di pake ber 4 dengan rate standart, ternyata dihargai per-kepala. Ah, kebodohan kami yang gak menyelesaikan administrasi dulu sebelum masuk.. Ini gunanya browsing dulu untuk mencari akomodasi.

Kalo menjengkelkan adalah kita sudah nyasar malah disasarin, tepatnya diputer-puterin. Kali ini urusan dengan sopir taxi di Penang. Ternyata sama saja, kalo mereka tau kita ini awam dan baru pertama kali pasti akan dibuat muter-muter. Apa mereka gak mikir yah, kalo suatu saat toh kita akan tahu rute sebenarnya dan kapok untuk naik taxi pembohong sejenis. Jangan ragu ambil peta dan berhenti sejenak untuk mempelajari peta. Kalau mau bertanya, silahkan pada petugas berkompeten atau penduduk lokal.. Jangan tanyakan pada rumput yang bergoyang.

MASIH DEMEN JALAN-JALAN ?

Pastinya... Sekelumit problem diatas hanya batu kerikil. Sakit sedikit tak akan membuat kita mundur kan.. Selain daya tarik suatu destinasi yang merupakan main course perjalanan, banyak aneka ragam dessert yang mempermanis ketika perjalanan berakhir.

Di suatu tempat yang agak terpencil di Banyuwangi (patokan saya adalah tidak adanya sinyal operator seluler sama sekali), dalam kondisi demam yang mendera, saya menemukan kehangatan ketika ibuk warung masih rela membuatkan mie goreng dan teh hangat buat kami yang kelaparan. Padahal saat ini sudah jam tutup.. Rasa pahit karena sakit tak mampu menghalangi nikmatnya mie instan yang serasa spagheti bolognaise.. (bukan spagheti instan buatan saya yang seringkali malah membuat sakit perut..).

Keramahan juga menghampiri saya ketika backpacker ke Negeri Singa. Berdua dengan teman, kami makan malam di Qiji dengan sistem beli satu porsi nasi, satu gelas minuman dan satu porsi gorengan. Satu porsi dengan maksut agar jangan terlalu kenyang dan bisa melanjutkan petualangan kuliner dan berhemat tentunya.. Ha3x... Saya yang sedang giat-giatnya praktek ngomong Inggris mengajak ngobrol seorang ibuk yang telah dengan baik memberikan meja bagi kami. Ujung cerita, sang ibuk memberikan satu botol air minum nya kepada kami.. Pasti kasihan melihat kami yang kucel kelihatan kurang minum... Thx Madam....

Kejadian semacam ini, saya alami lagi ketika Solo Flashpacking ke Derawan. Dengan baik hati, ada keluarga yang menawarkan nyemil sore bareng.. Ha3x.. Alhasil satu porsi PopMie mendarat di perut saya.. Ditambah lagi, kebaikan seorang kawan baru dari Makasar yang rela memotretkan saya sehingga sedikit kenarsisan dapat diabadikan..


Salah satu point dalam Sapta Pesona Wisata adalah RAMAH TAMAH. Penjabaran dari ramah tamah sendiri adalah Sikap masyarakat yang mencerminkan suasana akrab, terbuka dan menerima hingga wisatawan betah atas kunjungannya. Termasuk didalamnya juga adalah tidak mengharapkan sesuatu atas jasa telah yang diberikan.

Semakin kita sering mengunjungi tempat baru, dengan tujuan wisata tentunya, akan semakin kita merasakan indahnya keramahan orang. Keindahan dan pesona suatu destinasi tidak akan mampu membuat kita datang kembali apabila tidak ada keramahan dan kearifan lokal yang membungkusnya. Banyak tempat indah di dunia ini, hanya sedikit yang membuat kita “rela” datang dua kali. Dalam artian, kita benar benar datang kembali karena rindu tempat ini.. Hmmmm..

Alasan utama orang menghindari jalan-jalan adalah karena tidak mau keluar dari wilayah kenyamanan. Tak punya uang ?? Nabunggggg.... Mahal ?? *&%^#$@%^^& (pikir saja sendiri..)

1 comment:

intan said...

Sedikit mengomentari tentang "style dalam menulis" siwa ungu, Saya menikmati membaca posting2 sebelumnya. I'm oke with your writing styLe.

The most important thing is that you wrote it from your heart happiLy. Writing is fun ^_*