Sunday, January 16, 2011

Rafting & Organizational Behaviour

Arung jeram (white water rafting) merupakan olah raga mengarungi sungai berjeram, dengan menggunakan perahu karet, kayak, kano dan dayung. Tujuan berarung jeram bisa dilihat dari sisi olah raga, rekreasi dan ekspedisi. Arung jeram sebagai olah raga kelompok, sangat mengandalkan pada kekompakan tim secara keseluruhan. Kerja sama yang terpadu dan pengertian yang mendalam antar awak perahu, dapat dikatakan sebagai faktor utama yang menunjang keberhasilan melewati berbagai hambatan di sungai.

Dapat diibaratkan, wahana (perahu) yang digunakan dalam rafting adalah sebuah bentuk organisasi. Setiap individu dalam perahu menempati posisi sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing untuk menjaga agar perahu selamat sampai dengan tujuan. Arus sungai yang deras dan bergejolak mencerminkan kondisi perubahan yang cepat dan seringkali sangat drastis. Kondisi eksternal seperti inilah yang sekarang riil dihadapai oleh setiap organisasi, tentunya bukan organisasi kekuasaan...
Tak dapat dibantah, kondisi perubahan yang "high risk" ini mengharuskan suatu bentuk wahana yang elastis, untuk itulah digunakan perahu karet. Coba bayangkan, kita berarung jeram ria menggunakan perahu kayu.. Pastinya sudah terbalik ketika menghadapi jeram kecil atau bahkan pecah di jeram besar. Ha3x..
Lintasan berkelok-kelok dengan gejolak besar-kecilnya jeram mengharuskan setiap personel siap ber-mutasi secara dinamis untuk memantapkan posisi dalam menjaga keselamatan seluruh perahu beserta isinya. Personel harus adaptif karena mengharuskannya mampu menjalankan tugas dan fungsi berbeda dalam perubahan posisi.
Kongruen dengan organisasi, dalam perahu terdapat seorang pemimpin yang berkewajiban memberikan instruksi dan komando dalam upaya menjaga keselamatan perahu dan isinya sampai di garis akhir. Pemimpin menempati posisi di bagian belakang sehingga mampu melihat perubahan di depan dan mampu mengkoordinasikan anak buah. Hal ini sangat penting karena instruksi yang diberikan harus responsif dalam merespon perubahan yang cepat baik itu arah lintasan maupun besarnya jeram.
Pemimpin tidak hanya memberikan konstruksi, tetapi juga ikut proaktif dalam penyesuaian. Terkadang harus terlibat kerja keras dan bahkan tak segan turun langsung untuk mendorong laju perahu yang terhambat/tersangkut. Anak buah juga diperkenankan mengambil inisiatif pribadi untuk melakukan tindakan di luar instruksi pemimpin dalam upaya menyelamatkan perahu dan isinya.

Dalam perjalanan, personel mungkin pula jatuh, baik karena tidak mendengarkan atau lambat dalam merespon instruksi. Menghadapi permasalahan ini, personel dalam perahu akan memberikan bantuan agar si malang dapat kembali ke perahu, tentunya dengan tetap menjaga kondisi perahu agar tetap seimbang. Si malang ini juga harus berjuang naik sehingaa mampu mencapai tujuan akhir bersama-sama.
Sama seperti organisasi, arung jeram adalah olah raga yang menuntut keterampilan sehingga membutuhkan waktu untuk berkembang. Perkembangan ke arah mencapai kemampuan yang prima, hanya mungkin apabila mau mempelajari sifat-sifat sungai, serta bersedia melatih diri di tempat itu. Kecuali perlu mengembangkan pengetahuan mengenai sifat-sifat sungai, wajib pula berlatih berdayung, berkayuh di sungai. Implikasinya butuh mengembangkan kemampuan fisik, agar selalu mencapai kondisi seoptimal mungkin. Hal lain yang patut diingat, adalah berlatih cara-cara menghadapi keadaan darurat di sungai. Hal ini penting untuk melatih kesiapan, kemampuan dan kepercayaan diri, apabila memang harus menghadapinya.
Banyak makna dalam yang tak terpikirkan bisa kita peroleh dalam setiap aktivitas kita sehari-hari. Khususnya travelling, mampu memberikan pemahaman yang mungkin sederhana tapi sangat bermakna.. Ha3x.. Saya jadi makin semangat untuk jalan-jalan, karena universitas maha luas adalah alam semesta dan pelajaran paling berharga adalah ilmu dari kehidupan..

Terima kasih pada Prof. Fendy untuk penyampaian materi kuliahnya dengan sesuatu yang saya senangi.. He3x..










No comments: